Sejarah Singkat Maulid Nabi

2009 Maret 12
by adjhee

Orang yang pertama kali mengadakan bid’ah ini adalah Bani Ubaid Al-Qadah yang menamakan diri mereka dengan kelompok Fathimiyah (yang nantinya menjadai dinasti Fathimiyah) dan mereka menisbatkan diri kepada putra Ali bin Abi Thalih radhiyallohu anhu. Padahal sebenarnya mereka adalah peletak dasar untuk mendakwahkan aliran kebatinan (yang selanjutnya ana sebut menjadi bathiniyah).

Pada tahun 402 H. sekelompok’ulama, qadhi.orang-orang mulia, orang-orang adil, shalihin, para fuqaha, dan muhaditsin menyampaikan kuliah tentang celaan terhadap nasab Al Fathimiyah Al Abidiyah (bani Ubaid Al-Qadah). Mereka semua bersaksi bahwa pemimpin Mesir kala itu yaitu Manshur bin Nazzar (lihat biografinya di Al Bidayah wa Nihayah Ibnu Katsir XII/10-12) yang diberi gelar dengan Al Hakim bin Ma’ad bin Ismail bin Abdullah bin Sa’id ketika sampai di negeri Maghrib (Morocco sekarang-pen) mengganti nama dengan Ubaidillah dan membuat gelar dengan nama Al Mahdi. Para pendahulu mereka (nenek moyang dari bani Ubaid/Abidiyun) adalah penganut aliran Khowarij dan tidak ada nasab sama sekali dengan putra Ali bin Abi Thalib radhiyallohu anhu. Dengan jelas ana tegaskan bahwa keturunan pembuat bid’ah maulid Nabi ini adalah anak-cucu khawarij (sekte paling ekstrem dalam islam). Hingga akhirnya mereka meyelusupkan dirinya kedalam barisan Syi’ah Rafidhah.

Al Qadhi Al Baqillani, seorang ahli kalam terkenal pada masanya yang bemazhab Asy’ariyah mengatakan di dalam kitabnya (Kasyfu Al Asraar wa Hatki Al Astaar) “Mereka adalah kaum yang menampakkan paham rafidhah (syi’ah) secara lahir dan menyembunyikan ke kafiran” (antum akan menemukan di banyak kitab bahwa mereka adalah kalangan zindiqah wal munafiqqin, lihat Al Bidayah XI/387).

Pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang mereka adalah “begitu juga dalam hal nasab mereka dan menyebutkan bahwa mereka adalah keturunan orang Majusi dan Yahudi” (perhatikanlah ini wahai pecinta Maulid !!!)

Sekali lagi kami ulangi bahwa orang yang pertama kali mengadakan acara buruk ini adalah kelompok Bathiniyah yang ingin mengubah agama manusia dan memasukkan di dalamnya apa yang tidak termasuk bagian darinya, untuk menjauhkan manusia dari agama mereka, lalu menyibukkan mereka dengan bid’ah, suatu jalan yang paling mudah untuk mematikan sunnah dan menjauhkan mereka dari syariat Alloh yang mudah dan Sunnah Rasululloh shalallaahu ‘alaihi wa salam yang suci.

Kelompok Abdiyah (abidiyun/ bani Ubaid) masuk Mesir pada tahun 362 H, hari kamis bulan Ramadhan (lihat Al Bidayah wa Nihayah XI/306). Dan itulah awal kekuasaan mereka terhadap Mesir yang selanjutnya mereka namakan dengan dinasti Fathimiyah.

Ada yang mengatakan mereka masuk Mesir pada hari selasa tangga l 7 bulan Ramadhan tahun 362 H. bid’ah peringatan Maulid Nabi secara umum dan khususnya terjadi pada masa kepemimpinan Abidiyun ini, yang sebelumnya belum pernah dilakukan oleh siapapun.

Tidak hanya peringatan Maulid Nabi, tetapi mereka juga menyelenggarakan Maulid yang lainnya diantaranya : Maulid Ali bin Abu Thalib, Maulid Fathimah Az Zahra, Maulid Hasan-Husain, peringatan awal malam bulan Rajab, malam Nishfu sya’ban, awal malam Ramadhan, pertengahan dan akhir Ramadhan, hari raya idul fitri secara bid’iyah beserta hari raya idul adha, dan lain-lain. Perhatikanlah tujuan mereka sesungguhnya bukanlah meninggikan kemurnian islam tetapi tujuan mereka adalah menyebarluaskan aliran Ismailiyah Bathiniyah yang mereka anut dan akidah rusak mereka di kalangan manusia serta menjauhkan manusia dari akidah yang benar dan ajaran yang murni dengan cara mengadakan peringatan bid’iyah tersebut agar mendapatkan keuntungan harta pula melalui peringatan tersebut. (perhatikanlah ini wahai muslimin tradisionaliyun !!!)

Bila itu sejarah yang terjadi bahwa peringatan tersebut tidak dari islam dan bukan syariat islam, lantas diantara kaum muslimin masih saja merayakannya. Seperti keterangan di atas mereka adalah aliran bathiniyah yang lebih busuk dari syi’ah rafidhah yang busuk, dan lebih sadis dibandingkan dengan khowarij yang sangat sadis. Perhatikanlah ini!!! Sunnah siapa yang lantas kita ikuti??? Dan untuk apa kita saat ini merayakannya??? Bukankah sesuatu yang tak pernah ada contohnya menjadi tertolak??? Lantas untuk apa kalian memgumpulkan dana untuk acara besar dalam rangka Maulid??? Apa bedanya kalian dengan kaum Nasrani yang mengadakan Natal kalian mengadakan Maulid??? Apa maksud tasyabuh kalian?? Benarlah ternyata peringatan saat ini justru kembali lagi dengan alasan harta untuk para ustadz, terkenal untuk para penyelenggaranya, dan buang-buang biaya dan waktu diantara para pemuda.

Wahai penggerak islam jangan kau jadikan sisa hidupmu menyelenggarakan acara yang tak ada gunanya. Amalan kalian tertolak dan menjadi seperti debu yang beterbangan tak bernilai di sisi Alloh. Dasar kalian menyelenggarakan acara tersebut adalah tertolak sebab para shahabat radhiyallohu anhum tak pernah mengadakannya karena mereka yang paling tahu islam, paling dekat dengan Rasululloh, dan paling tahu bagaimana memuliakan Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa sallam. Lantas siapakah yang kalian jadikan pedoman dalam hal ini???

Wallahu ‘alam bi showwab.

maraji

Al Bida’ Al Hauliyyah dan Fatawa Tata’allaq bil Maulid An Nabawi (edisi Indonesia “adakah maulid Nabi ?? penerbit Darul Falah Jakarta) Penulis Abdullah bin Abdullah At Tuwaijiry dan Dakhihulah bin Bakhit Al Mathrafi.

3 Tanggapan leave one →
  1. 2009 Juli 27
    ahmad permalink

    assalaamu’alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh…

    Wa’alaykumsalam warahmatullahi wabarakatuh

    ane mau tanya…sejarahnya kenapa raja Malik n panglima perangnya Sholahuddin Al-Ayyubi mengadakan perayaan maulid…maksud ane…bukan menguji tulisan diatas…tetapi kita harus sejaras…bukti dari sejarah tersebut mengungkap betapa peringatan tersebut mampu menyemangati kaum muslimin pada waktu itu…sehingga mampu memenangkan peperangan dan mencapai kejayaan…dan hal tersebut harus di pertahankan, lebih berat mempertahankan dari menggapai…

    justru saya mau bertanya balik, apakah benar Shalahuddin Al Ayyubi yang mengadakan acara Maulid Nabi, silahkan saudara membaca artikel diatas bahwasanya yang menyelenggarakan pertamakali bukan Shalahuddin Al Ayyubi, melainkan mereka penduduk Irbil di kawasan dinasti Fathimiyah.

    dan beritahu saya yang dhoif ini hal apa acara apa yang mampu menyemangati kaum muslimin yg ada sekarang…

    yang mampu menyemangati ialah hendaknya seseorang dari dirinya sendiri kepada ajaran Islam yang benar, dengan demikian akan tampak sebuah semangat untuk senantiasa menggali dan bersemangat diatas Islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh Al Imam Malik bin Anas, “Tidak akan baik akhir dari generasi ummat ini sebelum kembali kepada apa-apa yang membuat baik generasi awal ummat ini”. Siapakah generasi awal tersebut? Mereka adalah para sahabat dan tiga generasi sesudahnya. Maka jika kaum muslimin sekarang ingin mengembalikan Islam kepada kejayaannya, maka kembalilah sebagaimana masa Islam itu berjaya ketika kekuasannya sampai Andalusia dibawah pemerintahan Umar bin Khattab, dan ketika ekspansi besar-besaran sahabat Nabi lainnya Ridwanallohu ‘Alayhim Jami’an..Wallahu “alam bii shawwab

  2. 2009 Oktober 19
    hrydst permalink

    Assyeikh Ihya Al Amin menulis :

    ane kira acara maulid itu sangat baik untuk dilaksanakan karena untuk menyegarkan ingatan kita terhadap perjuangan nabi muhammad dan para sahabatnya dalam menegakan agama islam , dalam acaranya juga tidak ada pekerjaan yang tidak baik dan penuh dengan hal hal yang disunahkan seperti membaca al quran , tausiah tentang kebajikan dan islam , membaca syair sejarah hidup rasullulah dan , pembacaan doa doa kepada Allah , kemudiaan menjamu orang lain untuk makan dan saling bermaaf maafan untuk menjalin silaturahmi dan yang paling penting tujuan utamanya untuk menambah semangat kecintaan terhadap rasullullah dan jasa beliau terhadap kita dan ujung ujungnya adalah untuk menambah samangat ketakwaan kita terhadap ALLAH SWT , nah coba kepada para pembenci maulid nabi agar menyebutkan pekerjaan apa yang merupakan pekerjaan yang tidak baik dalam acara maulid tersebut , jadi sebaiknya ente ente para pembenci maulid sekali sekalilah menghadiri acara maulid agar tahu apa sebenarnya maulid tersebut , jangan hanya mencela setelah mendengarkan pendapat orang lain dan membaca kitab kitab karangan dari orang yang mengaku salafy atau kitab kitab para wahabiyin yang menolak acara maulid , harus diketahui bahwa tujuan utama para wahabiyin adalah untuk mengecilkan nama rasullullah agar kekuasaan poilitik dinasti fadh diarab saudi tidak terancam oleh kebangkitan para habaib yang merupakan keturunan rasullullah , makanya para wahabi tersebut memberangus tempat tempat bersejarah yang berhubungan dengan nabi dengan alasan menghindari sirik , melarang orang banyak membaca salawat dan merayakan acara mauld dengan alasan mencegah umat islam agar tidak menuhankan nabi muhammad seperti yang terjadi pada umat nasrani padahal tujuan utamanya adalah untuk mencegah bangkitnya kecintaan masyarakat terhadap para habaib yang menyebabkan kekuasaan dinasti fahd terancam , nah ente ente semua tidak ada hubungan keluarga dengan dinasti fahd di arab saudi tersebut kenapa mati matian mendukung program mereka untuk mengecilkan nabi dan para keturunannya hanya karena persoalan tahta dunia dan celakanya lagi itu tahta dunia bukan untuk ente tapi untuk dinasti fad itu tapi kalian mati matian mendukung program mereka , kalau ada upahnya dari raja fhd itu sih masih mending , yang rugi upahnya tidak ada ,tapi kalian turut mendeskriditkan nabi dan keturunannya untuk kepentinag mereka semantara kalian tidak mendapat apapun dan bisa terjerumus ke dalam dosa ,lebih baik ente kembali setia kepada rasullullah dengan mengagungkan beliau dan keturunannya dengan acara maulid, tidak perduli acara maulid tersebut berasal dari siapa , dan kalau acara tersebut termasuk acara bid’ah , maka pastilah termasuk bid’ah yang baik dan sah dalam agama islam , bukankah ada bid’ah bid’ah yang baik yang sudah disahkan dalam agama islam seperti bid’ah pembuatan al quran menjadi sebuah musfah dan ditulis pada kertas dan penulisan baris pada huruf alquran untuk memudahkan pembacaannya ,sedang pada jaman nabi hal hal itu tidak ada , atau misalnya bid’ah membuat mesjid dengan bangunan modern dari beton , sedang pada jaman nabi mesjid dibuat dari tanah dan pelepah kurma , atau bidah yang sering ente lakukan tanpa sadar pada bulan puasa seperti berbuka puasa makan es cendol padahal pada jaman nabi , beliau tidak pernah mengakhiri ibadah puasanya dengan makan nasi dan minum es cendol ??????

    saya sarankan untuk membaca Bidayah Wa Niahayah karya Ibnu Katsir sajalah yaa..

  3. 2009 Oktober 22
    hrydst permalink

    saya sarankan juga anda membaca kitab Husn ‘ al maqsid fi ” amal al maulid dari imam As syuyuti

    mungkin maksudnya Imam Suyuthi…

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS