<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Apresiasi</title>
	<atom:link href="http://adjhee.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adjhee.wordpress.com</link>
	<description>Menggugah Kesadaran Berfikir, Mengasah Kepekaan Nurani</description>
	<lastBuildDate>Fri, 01 Jan 2010 03:55:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='adjhee.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/40d96be6308a36063e0d213b93f51fe5?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rumah Apresiasi</title>
		<link>http://adjhee.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://adjhee.wordpress.com/osd.xml" title="Rumah Apresiasi" />
		<item>
		<title>Informasi</title>
		<link>http://adjhee.wordpress.com/2010/01/01/informasi/</link>
		<comments>http://adjhee.wordpress.com/2010/01/01/informasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 03:55:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adjhee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daftar Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adjhee.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah

Mohon maaf sebesar-besarnya saya ucapkan kepada pengunjung blog ini jika dalam blog ini tidak terdapat update tulisan-tulisan yang baru. Hal ini disebabkan karena saya telah membuat web tersendiri.

Dengan berharap Ridho dari Allah Ta’ala, maka blog saya (Rizki Aji) ini dengan resmi dialihkan ke :
Silahkan di klik 
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=132&subd=adjhee&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;">Bismillah</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">Mohon maaf sebesar-besarnya saya ucapkan kepada pengunjung blog ini jika dalam blog ini tidak terdapat update tulisan-tulisan yang baru. Hal ini disebabkan karena saya telah membuat web tersendiri.</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">Dengan berharap Ridho dari Allah Ta’ala, maka blog saya (Rizki Aji) ini dengan resmi dialihkan ke :</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://rujakkata.com"><img class="aligncenter size-full wp-image-131" title="rujakkata" src="http://adjhee.files.wordpress.com/2010/01/rujakkata1.jpg?w=275&#038;h=275" alt="" width="275" height="275" />Silahkan di klik </a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adjhee.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adjhee.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adjhee.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adjhee.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adjhee.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adjhee.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adjhee.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adjhee.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adjhee.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adjhee.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=132&subd=adjhee&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adjhee.wordpress.com/2010/01/01/informasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/583fa9f0cc91318fa26fdba6032598e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizkiaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://adjhee.files.wordpress.com/2010/01/rujakkata1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rujakkata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Analisa Tentang Korelasi Pendidikan Terhadap Pemberdayaan Masyarakat</title>
		<link>http://adjhee.wordpress.com/2009/10/05/sebuah-analisa-tentang-korelasi-pendidikan-terhadap-pemberdayaan-masyarakat/</link>
		<comments>http://adjhee.wordpress.com/2009/10/05/sebuah-analisa-tentang-korelasi-pendidikan-terhadap-pemberdayaan-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 14:04:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adjhee</dc:creator>
				<category><![CDATA[wacana]]></category>
		<category><![CDATA[analisa]]></category>
		<category><![CDATA[edi suharto]]></category>
		<category><![CDATA[isbandi rukminto]]></category>
		<category><![CDATA[kamus besar bahasa indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pembangunan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[pemberdayaan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adjhee.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[
Analisis Program
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata analisa memiliki persamaan kata dengan analisis. Sedangkan analisis sendiri yang terdiri dari susunan huruf ana·li·sis  mempunyai makna, pertama penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dsb) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya, dsb); kedua penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=128&subd=adjhee&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="aligncenter" src="http://katblogsit.files.wordpress.com/2009/07/books.jpg?w=242&#038;h=307" alt="" width="242" height="307" /></p>
<p><strong>Analisis Program</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata analisa memiliki persamaan kata dengan analisis. Sedangkan analisis sendiri yang terdiri dari susunan huruf ana·li·sis <em> </em>mempunyai makna, pertama penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dsb) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya, dsb); kedua penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan; dalam kimia ialah penyelidikan kimia dengan menguraikan sesuatu untuk mengetahui zat bagiannya dsb; keempat ialah penjabaran sesudah dikaji sebaik-baiknya; dan kelima yakni pemecahan persoalan yang dimulai dengan dugaan akan kebenarannya.<a href="#_ftn1">[1]</a> Sedangkan program sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memliki arti yang relevan dalam pembahasan skripsi ini ialah berasal dari suku kata prog·ram<em> n</em> yang bermakna rancangan mengenai asas serta usaha (dl ketatanegaraan, perekonomian, dsb) yang akan dijalankan.<a href="#_ftn2">[2]</a><span id="more-128"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pada pembahasan ini maka analisa program ialah sebuah usaha penyelidikan atau pengamatan terhadap suatu peristiwa dalam hal ini ialah pemberdayaan melalui bidang pendidikan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya dengan penelusuran lebih terperinci atas sebuah usaha pemberdayaan masyarakat pada suatu wilayah yang dijalankan oleh lembaga pemberdayaan masyarakat non pemerintah.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemberdayaan pun memiliki dua buah sisi keberdayaannya yakni sebagai sebuah program maupun sebagai sebuah proses sebagaimana dipaparkan oleh Isbandi.<a href="#_ftn3">[3]</a> Oleh karena penulis mengangkat akan tema pemberdayaan sebagai sebuah program maka patutlah diangkat pula definisi dai pemberdayaan sebagai sebuah program. Pemberdayaan sebagai sebuah program yakni pemberdayaan dilihat dari tahapan-tahapan kegiatan guna mencapai suatu tujuan, yang biasanya sudah ditentukan jangka waktunya. Misalnya program pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan jangka waktu 1,2 ataupun 5 tahun. Konsekuensi dari hal ini menurut Isbandi ialah apabila program itu telah selesai maka dianggap pemberdayaan sudah selesai dilakukan.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>Pemberdayaan Masyarakat</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pengertian Pemberdayaan Masyarakat</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Secara konseptual, pemberdayaan atau pemberkuasaan (empowerement), berasal dari kata ‘power’ (kekuasaan atau keberdayaan). Karenanya, ide utama pemberdayaan bersentuhan dengan konsep mengenai kekuasaan. Kekuasaan seringkali dikaitkan dengan kemampuan kita untuk membuat orang lain melakukan apa yang kita inginkan, terlepas dari keinginan dan minat mereka. Ilmu sosial tradisional menekankan bahwa kekuasaan berkaitan dengan pengaruh dan kontrol. Pengertian ini mengasumsikan bahwa kekuasaan sebagai sesuatu yang tidak berubah atau tidak dapat dirubah.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Nazili Shalih Ahmad, Masyarakat adalah sekumpulan orang atau sekelompok manusia yang hidup bersama di suatu wilayah dengan tata cara berfikir dan bertindak yang relatif sama yang membuat warga masyarakat itu menyadari mereka sebagai suatu kelompok.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam mengetahui pengertian secara tepat apa itu pemberdayaan masyarakat, tentulah akan didapati berbagai macam perbedaan definisi. Sebagaimana dikemukakan oleh Soetomo didalam bukunya, yang mengutip Hayden (1979: 175) dimana beliau menyajikan sejumlah definisi berbeda dari tiap-tiap negara. Definisi tersebut tergantung kepada lokasi suatu negara, seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada, India, Rhodesia, bahkan Hayden pun menjelaskan konsep definisi communty development menurut Persatuan Bangsa-Bangsa didapatkan sebuah pendefinisian <em>community development</em> secara patronase terhadap masyarakat makro, otoritarian pemerintah bersifat vertikal dibandingkan kepada komunitas. Hal ini disebabkan Persatuan Bangsa-Bangsa menerjemahkan pemberdayaan masyarakat sebagai suatu proses yang merupakan usaha masyarakat sendiri yang diintegrasikan komunitas ke dalam kehidupan nasional dan mendorong kontribusi komunitas yang lebih optimal</p>
<p style="text-align:justify;">Masyarakat Mandiri memberikan sebuah uraian tentang pemberdayaan masyarakat dengan nada, pemberdayaan masyarakat terdiri dari dua kata yaitu pemberdayaan dan masyarakat. Makna kata pemberdayaan adalah upaya kegiatan yang dilakukan secara terus menerus, berkesinambungan sampai pihak yang terlibat memandang cukup tercapainya kondisi yang diharapkan untuk mampu mengatasi akar masalah penyebab kemiskinan atau ketidakberdayaan. Sedangkan makna kata masyarakat adalah sebuah komunitas yang terdiri dari kumpulan orang-orang yang tinggal pada satuan wilayah tertentu dengan berbagai ragam variasinya (dapat beragam suku, agama, profesi, status sosial, status ekonomi, kemampuan, visi hidup, tingkat kecerdasan dan keberagaman lainnya). Sehingga dengan demikian pemberdayaan masyarakat adalah sebuah peningkatan kemampuan melalui kegiatan terus-menerus dan berkesinambungan sampai mencapai kondisi yang disepakati bersama oleh komunitas pelaku sekaligus sasaran.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Shardlow sebagaimana yang dikutip oleh Isbandi, melihat bahwa berbagai pengertian yang ada mengenai pemberdayan pada intinya membahas bagaimana individu, kelompok ataupun komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka.<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan menurut Payne, yang dimaksud dengan pemberdayaan masyarakat ialah, membantu klien memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan ia lakukan yang terkait dengan diri mereka, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang ia miliki, antara lain melalui transfer daya dari lingkungannya.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Adapun pengertian pemberdayaan masyarakat menurut Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini Kementerian Koordinasi Kesejahteraan Rakyat ketika membahas soal Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, mengutarakan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk menciptakan atau meningkatkan kapasitas masyarakat, baik secara individu maupun berkelompok, dalam memecahkan berbagai persoalan terkait upaya peningkatan kualitas hidup, kemandirian dan kesejahteraannya. Pemberdayaan masyarakat memerlukan keterlibatan yang besar dari perangkat pemerintah daerah serta berbagai pihak untuk memberikan kesempatan dan menjamin keberlanjutan berbagai hasil yang dicapai.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Model-model dalam Strategi Pemberdayaan Masyarakat</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Sebelum lebih jauh menilik apa-apa saja yang menjadi model-model strategi dalam melakukan pemberdayaan masyarakat, ada baiknya jika penulis sedikit memaparkan soal tujuan-tujuan dalam pemberdayaan masyarakat. Hal ini dikarenakan pemberdayaan masyarakat adalah sebuah ilmu yang memiliki kerangka teori serta tujuan jelas. Diantara tujuan dalam pemberdayaan masyarakat adalah,<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Masyarakat memahami bahwa kemiskinan yang terjadi pada dirinya dan lingkungannya, tidak semata-mata karena nasib atau keturunan, namu ada hal yang selama ini membuat mereka agar tetap miskin, karena ada kelompok yang hidup makmur diatas ketidakadilan yang terjadi selama ini.</li>
<li>Pemberdayaan masyarakat adalah program penanggulangan kemiskinan yang ditempuh melalui cara pemberdayaan yang tersistematis dan terorganisir. Bukan dengan program karitas belas kasihan, santunan, ataupun sedekah serta infak.</li>
<li>Masyarakat tumbuh keterampilannya dalam hal memulai dan mengelola kelembagaan serta jaringan yang berbasis pada minat, kebutuhan, keswadayaan, dan kemandirian.</li>
<li>Masyarakat tumbuh kesadaran, motivasi dan mau berperanserta nyata dalam proses maupun mengembangkan hasil pembangunan.</li>
<li>Masyarakat miskin memiliki wakil yang dipilih sendiri untuk menjadi utusan dalam sebuah jejaring maupun forum konsultasi pembangunan dalam rangka menumbuhkan posisi runding dan posisi tawar untuk kebijakan-kebijakan pembangunan pada skala lokal yang memihak dan lebih adil dalam mensejahterakan warga yang masih tertinggal.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Tujuan-tujuan tersebut memberikan suatu penjelasan bahwasanya pemberdayaan masyarakat adalah salah satu wujud dari proses untuk menempuh nilai-nilai kesejahteraan dalam masyarakat. Namun nilai-nilai menuju kesejahteraan tersebut membutuhkan strategi-strategi dalam melakukan pemberdayaannya. Strategi yang dirumuskan pun terhitung jumlahnya banyak. Para ahli yang berkecimpung dalam bidang pemberdayaan memiliki strategi-strategi rumusan tersendiri. Baik para ilmuwan internasional maupun lokal pun memiliki strategi-strategi yang berbeda dalam melakukan sebuah pemberdayaan. Rumusan berdasarkan hasil temuan referensi ilmiah dan pengalaman lapangan, diantara strategi-strategi yang ada ialah seperti yang dirumuskan oleh Isbandi Rukminto Adi dengan rumusan strateginya yang menjadikan beberapa tahap dalam melakukan pemberdayaan yakni,<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Tahap persiapan (<em>engagement</em>), tahap persiapan ini memiliki substansi penekanan pada dua hal elemen penting yakni penyiapan petugas dan penyiapan lapngan. Tahapan ini adalah tahapan prasyarat sukses atau tidaknya sebuah program pemberdayaan berlangsung.</li>
<li>Tahap pengkajian (<em>assestment</em>), sebuah tahapan yang telah terlibat aktif dalam pelaksanaan program pemberdayaan karena masyarakat setempat yang sangat mengetahui keadaan dan masalah ditempat mereka berada. Tahapan ini memiliki penekanan pada faktor identifikasi masalah dan sumber daya yang ada dalam sebuah wilayah yang akan menjadi basisi pemberdayaan serta pelaksanaan program.</li>
<li>Tahap perencanaan alternatif program atau kegiatan (<em>designing</em>), dalam tahap ini program perencanaan dibahas secara maksimal dengan melibatkan peserta aktif dari pihak masyarakat guna memikirkan solusi atau pemecahan atas masalah yang mereka hadapi di wilayahnya. Dalam tahap ini dipikirkan secara mendalam agar program pemberdayaan yang ada nantinya tidak melulu berkisar pada program amal (<em>charity</em>) saja dimana demikian itu tidak memberikan manfaat secara pasti dalam jangka panjang.</li>
<li>Tahap pemformulasian rencana aksi (<em>designing</em>), pada tahap ini masyarakat dan fasilitator menjadi bagian penting dalam bekerjasama secara optimal. Hal ini disebabkan masyarakat telah menjabarkan secara rinci dalam bentuk tulisan tentang apa-apa yang akan mereka laksanakan baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang.</li>
<li>Tahap pelaksanaan program atau kegiatan (<em>implementasi</em>), tahap ini merupakan bentuk pelaksanaan serta penerapan program yang telah dirumuskan sebelumnya bersama para masyarakat. Tahapan ini berisi tindakan aktualisasi bersinergi antara masyarakat dengan pelaku pemberdayaan (dalam bahasa Isbandi disebut sebagai petugas).</li>
<li>Tahap evaluasi, tahapan yang memiliki substansi sebagai proses pengawasan dari warga dan petugas terhadap program pemberdayaan masyarakat yang sedang berjalan dengan melibatkan warga. Tahapan ini juga akan merumuskan berbagai indikator keberhasilan suatu program yang telah diimplementasikan serta dilakukan pula bentuk-bentuk stabilisasi terhadap perubahan atau kebiasaan baru yang diharapkan terjadi.</li>
<li>Tahap terminasi (disengagement), sebuah tahapan dimana seluruh program telah berjalan secara optimal dan petugas fasilitator pemberdayaan masyarakat sudah akan mengakhiri kerjanya. Tahapan ini disebut sebagai tahap pemutusan hubungan antara petugas dengan para asyarakat yang menjadi basis program pemberdayan ketika itu. Petugas pun tidak keluar dari komunitas secara total, melainkan ia akan meninggalkannya secara bertahap.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Lain Isbandi, lain pula dengan William W. Biddle yang mengemukakan 6 tahap dengan penjelasan yang berbeda ketika melakukan intervensi pemberdayaan masyarakat. Biddle menguraikan seperti yang dikutip dalam Soetomo yakni,<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Exploratory</em>: Tahap ini berisi kegiatan-kegiatan umtuk memahami kondisi, situasi, dan potensi masyarakatnya. Dalam tahap ini juga diusahakan memperoleh informasi yang dapat digunakan untk berkomunikasi dengan masyarakat pada tahap selanjutnya. Bagi petugas lapangan, kesempatan pada tahap ini juga dapat dipergunakan untuk memperkenalkan diri dan memahami respons masyrakat atas kehadirannya.</li>
<li><em>Organizational</em>: Tahap ini berisi kegiatan untuk menentukan media yang dapat digunakan sebagai sarana pertemuan dan diskusi antara petugas dengan masyarakat maupun antarsesama warga masyarakat. Pada tahp ini juga dibuat kesepakatan tentang langkah-langkah untuk menangani masalah pada tingkat komunitas.</li>
<li><em>Discussional</em>: Tahap ini berisi kegiatan diskusi antar warga masyarakat tentang inventarisasi masalah serta kemungkinan pemecahannya, memilih alternatif yang pantas memperoleh prioritas dalam penanganannya, membuat keputusan tentang kegiatan bersama yang akan dilaksanakan dan membuat rencana pemberdayaannya.</li>
<li><em>Action</em>: Tahap ini berisi pelaksanaan kegiatan yang sudah diputuskan bersama, serta melaporkan dan mengevalusi hasilnya.</li>
<li><em>New Project</em>: Tahap ini mengulang kegiatan diskusi untuk menentukan masalah apa yang sebaiknya digarap pada prioritas berikutnya, kemudian membuat rencana dan melaksanakannya dengan memerhatikan pengalaman pelaksanaan sebelumnya. Dengan cara yang sama, dilakukan kegiatan-kegiatan berikutnya sesuai urutan prioritas berdasarkan kesepakatan warga masyrakat.</li>
<li><em>Constinuation</em>: dalam tahap ini mekanisme pelaksanaan pembangunan berdasar peran serta masyarakat diangap sudah melembaga. Dengan demikian, petugas lapangan dapat meninggalkan masyarakat yang bersangkutan. Walaupun intervensi dari luar sudah dihentikan, kesinambungan proses pembangunan diharapkan tetap berjalan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Edi Suharto pun memiliki pendekatan yang berbeda dalam merumuskan tahapan stratego pemberdayaan, Edi Suharto membaginya menjadi 5 tahapan yang terdiri dari,<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pemungkinan: menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang secara optimal. Pemberdayaan harus mampu membebaskan masyarakat dari sekat-sekat kultural dan strujtural yang menghambat.</li>
<li>Penguatan: memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat dalam memecahkan masalah dan memnuhi kebutuhan-kebutuhannya. Pemberdayaan harus mampu menumbuh-kembangkan segenap kemampuan dan kepercayaan diri masyarakat serta menunjang kemandirian mereka.</li>
<li>Perlindungan: melindungi masyarakat terutama kelompok-kelompok lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat, menghindari terjadinya persaingan yang tidak seimbang apalagi tidak sehat antara yang kuat dan lemah,dan mencegah terjadinya eksploitasi kelompok kuat terhadap kelompok lemah. Pemberdayaan harus diarahkan pada penghapusan segala jenis diskriminasi dan dominasi yang tidak menguntungkan rakyat kecil.</li>
<li>Penyokongan: memberikan bimbingan dan dukungan agar masyrakat mampu menjalankan peranan dan tugas-tugas kehidupannya. Pemberdayaan harus mampu menyokong masyarakat agar tidak terjatuh kedalam keadaan dan posisi  yang semakin lemah dan terpinggirkan.</li>
<li>Pemeliharaan: memlihara kondisi yang kondusif agar tetap terjadi keseimbangan distribusi kekuasaan antara berbagai kelompok dalam masyarakat. Pemberdayaan harus mampu menjamin keselarasan dan keeimbangan yang memungkinkan setiap orang memperoleh kesempatan berusaha.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>Pendidikan Anak</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1.  Pengertian Pendidikan</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap bangsa memiliki nilai-nilai yang sangat menjunjung tinggi pendidikan bagi rakyatnya. Karena sejatinya pendidikan adalah bagian dari sendi pembangunan dan kesejahteraan yang tidak dapat dipisahkan. Pembangunan dan pendidikan memiliki nilai yang sangat erat demi mempertahankan kekokohan serta kejayaan setiap bangsa, bahkan pendidikan sangat mempengaruhi peradaban serta pola pergaulan antar bangsa. Semakin maju pendidikan suatu bangsa, maka akan semakin maju pula peradaban pembangunan maupun kesejahteraan bangsa tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan menduduki posisi sentral dalam pembangunan karena sasarannya adalah akhlak peningkatan kualitas sumber daya manusia. Oleh sebab itu, pendidikan juga merupakan alur tengah pembangunan dari seluruh sektor pembangunan. Terdapat suatu kesan bahwa persepsi masyarakat umum tentang arti pembangunan lazimnya bersifat menjurus. Pembangunan semata-mata hanya beruang lingkup pembangunan material atau pembangunan fisik berupa gedung, jembatan, pabrik, dan lain-lain. Padahal sukses tidaknya pembangunan fisik itu justru sangat ditentukan oleh keberhasilan di dalam pembangunan rohaniah atau spiritual, yang secara bulat diartikan pembangunan manusia, dan yang terakhir ini menjadi tugas utama pendidikan.<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi pendidikan mengarah kedalam diri manusia, sedang pembangunan mengarah ke luar yaitu ke lingkungan manusia. Jika pendidikan dan pembangunan dilihat sebagai suatu garis proses, maka keduanya merupakan suatu garis yang terletak kontinyu yang saling mengisi. Proses pendidikan pada satu garis menempatkan manusia sebagai titik awal, karena pendidikan memiliki tugas untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk pembangunan, yaitu pembangunan yang dapat memenuhi hajat hidup masyarakat luas serta mengangkat martabat manusia sebagai makhluk hidup. Bahwa hasil pendidikan itu menunjang pembangunan juga dapat dilihat korelasinya dengan peningkatan kondisi sosial ekonomi peserta didik yang mengalami pendidikan.<a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu transfer pengetahuan dari semua bentuk kejadian di dunia dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain, dan nantinya akan mempengaruhi proses kehidupan makhluk hidup tersebut. Pendidikan adalah kebutuhan dasar (<em>basic need</em>) hidup manusia. Pendidikan juga merupakan salah satu bagian dari hak asasi manusia. Dalam pengertian lebih luas, pendidikan bertujuan untuk memberikan kemerdekaan kepada manusia dalam mempertahankan hidupnya.<a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sejarahnya pendidikan berasal dari bahasa Yunani, <em>Paedagogy</em>, yang berarti seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar pelayan. Dalam perkembangannya pendiikan banyak mendapat pemaknaan yang beragam, namun sesungguhnya memiliki kesamaan substansi yakni pendidikan merupakan sebuah proses yang melibatkan orang dewasa dan peserta didik dalam rangka pelestarian nilai-nilai budaya dan norma-norma yang berkembang di masyarakat.<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Tak berbeda jauh dengan pengertian milik bangsa Yunani. Dalam Islam pendidikan juga memiliki arti penting tidak hanya untuk melanjutkan cita-cita pembangunan, namun memiliki arti yang lebih luas lagi mengenai pendidikan. Islam menganggap bahwasanya tujuan dari pendidikan khususnya pendidikan anak adalah sebuah upaya untuk mencari keridhaan Allah dan usaha untuk mendapatkan surgaNya, keselematan dari neraka, serta mengharapkan pahala dan balasannya.<a href="#_ftn19">[19]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Hasan Langgulung salah seorang tokoh pendidikan Malaysia, sebagaimana dikutip oleh Prof. Dr. Suwito memberikan definisi tentang pendidikan yakni bahwa yang dimaksud dengan pendidikan adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan untuk menciptakan pola-pola tingkah laku tertentu pada anak-anak atau orang-orang yang sedang dididik.<a href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Fraire yang dikutip oleh Firdaus M. Yunus, pendidikan adalah salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi manusia menjadi manusia agar terhindar dari berbagai bentuk penindasan, kebodohan sampai kepada ketertinggalan. Bagi Fraire pula, oleh karena manusialah yang menjadi pusat pendidikan, maka manusia harus menjadikan pendidikan sebagai alat pembebasan untuk mengantarkan manusia menjadi makhluk yang bermartabat.<a href="#_ftn21">[21]</a></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Tujuan Pendidikan</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Menurut GBHN (Ketetapan MPR RI No. IV/MPR/1973) dikatakan bahwa: “Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup.” Dan menurut ketentuan umum, BAB I Pasal 1 Undang-undang Sistem Pendidikan nasional No. 2 Tahun 1989, menjelaskan bahwa:”Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihanannya bagi peranannya dimasa yang akan datang.” Sedangkan menurut Undang-undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, pada Bab I Pasal 1, Ayat 1, menjelaskan bahwa pendidikan adalah “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.<a href="#_ftn22">[22]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan umum pendidikan di Indonesia menurut Umar Tirtaraharja ialah tujuan yang dalam pelaksanaannya akan dicapai oleh semua lembaga pendidikan dari semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan yang secara hierarkis akan dicapai melalui tujuan-tujuan institusional, kurikuler, dan instruksional.<a href="#_ftn23">[23]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan pendidikan di Indonesia berorientasi kepada, tujuan pendidikan yang terumuskan dalam BAB II Pasal 3 UU SPN Nomor 20 Tahun 2003; yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”<a href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan tujuan pendidikan dalam Islam memiliki makna yang diungkapkan oleh Ja’far Syaikh Idris sebagaimana dikutip oleh Abdul Aziz bin Abdullah Ahmad yakni tujuan pendidikan dalam Islam adalah menciptakan manusia yang hakiki, atau menciptakan hamba yang shalih.<a href="#_ftn25">[25]</a> Sehingga apabila dijadikan menjadi sebuah kesimpulan maka sejatinya suatu pendidikan memiliki tujuan untuk mengembangkan potensi serta mengembangkannya agar menjadi insan bertakwa, memiliki keluhuran akhlak, mempunyai wawasan keilmuan, menjadi pribadi yang mandiri, sosok penuh dengan kreatifitas, juga menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab sehingga dapat mengabdikan kemampuannya tersebut kepada bangsa dan negara secara umum dan kepada pribadinya, keluarga, dan masyarakat disekitarnya secara khusus.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Jaringan</em> diambil pada tanggal 24 Maret 2009 Jam 06:22 WIB dari: http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref2">[2]</a> Ibid, <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Jaringan</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref3">[3]</a> Isbandi Rukminto Adi, <em>Pemikiran-pemikiran Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial</em>, (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2002), h. 171</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Ibid</em>, h. 171</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref5">[5]</a> Edi Suharto, <em>Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat</em>, (Bandung: Refika Aditama, 2005), h. 57 &#8211; 58</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref6">[6]</a> Drs. H.M Alisuf Sabri, <em>Pengantar Ilmu Pendidikan</em>, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005), h. 30</p>
<p style="text-align:left;"><a href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat dalam Modul Pelatihan Calon Pendamping Pengembangan Masyarakat, dilaksanakan oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa Republika kerjasama Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syahid Jakarta, pada tanggal 27-28 Juni 2007 di Gedung teater Lt. 2 FDK.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref8">[8]</a> Isbandi Rukminto Adi, <em>Pemikiran-pemikiran Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial</em>, (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2002), h. 162 – 163.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref9">[9]</a> <em>Ibid</em>, h. 162</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref10">[10]</a> Pengertian dan Tujuan PNPM Mandiri, tanggal akses 29 Maret 2009, http://www.pnpm-mandiri.org/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=26&amp;Itemid=53.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat dalam Modul Pelatihan Calon Pendamping Pengembangan Masyarakat, dilaksanakan oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa Republika kerjasama Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syahid Jakarta, pada tanggal 27-28 Juni 2007 di Gedung teater Lt. 2 FDK.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref12">[12]</a> Isbandi Rukminto Adi, <em>Pemikiran-pemikiran dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial</em>, (Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Unversitas Indonesia, 2002), h. 182-185</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref13">[13]</a> Soetomo, <em>Strategi-strategi Pembangunan Masyarakat</em>. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), h.154-155.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref14">[14]</a> Edi Suharto, <em>Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakya</em>t, (Bandung: Refika Aditama, 2005), h. 67 &#8211; 68</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref15">[15]</a> Prof. Dr. Umar Tirtarahardja dan Drs. S. L. Lasulo, <em>Pengantar Pendidikan</em>. (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), h.200</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref16">[16]</a> <em>Ibid,</em> h. 304</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref17">[17]</a> Firdaus M. Yunus, <em>Pendidikan Berbasis Realitas Sosial Paula Fraire dan YB. Mangunwijaya</em>. (Yogyakarta: Logung Pustaka, 2004), h. 7</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref18">[18]</a> Hj. Zurinal Z dan Wahdi Sayuti, <em>Ilmu Pendidikan: Pengantar dan Dasar-dasar Pelaksanaan Pendidikan</em>. (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h. 1</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref19">[19]</a> Abu Amr Ahmad Sulaiman, <em>Metode Pendidikan Anak Muslim Usia Pra Sekolah</em>. (Jakarta: Darul Haq, 2000), h. 1</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref20">[20]</a> Prof. Dr. Suwito, <em>Filsafat Pendidikan Akhlak Ibnu Miskawaih</em>. (Yogyakarta: Penerbit Belukar, 2004), h. 57</p>
<p style="text-align:left;"><a href="#_ftnref21">[21]</a> Firdaus M. Yunus, <em>Pendidikan Berbasis Realitas Sosial Paula Fraire dan YB. Mangunwijaya</em>. (Yogyakarta: Logung Pustaka, 2004), h. 1</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref22">[22]</a> Hj. Zurinal Z dan Wahdi Sayuti, <em>Ilmu Pendidikan: Pengantar dan Dasar-dasar Pelaksanaan Pendidikan.</em> (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h. 6</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref23">[23]</a> Drs. H.M Alisuf Sabri, <em>Pengantar Ilmu Pendidikan</em>. (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005), h. 46</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref24">[24]</a> <em>Ibid</em>, h. 46</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref25">[25]</a> Abdul Aziz bin Abdullah Ahmad, <em>Kesehatan Jiwa; Kajian Korelatif Pemikiran Ibnu Qayyim dan Psikologi Modern</em>, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), h. 82.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>(Tulisan ini merupakan skripsi BAB 2 saya dalam mendapatkan gelar sarjana sosial Islam -S.Sos.I- di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, semoga bermanfaat bagi yang mengambil manfaat diatasnya. Bekasi, 05 Oktober 2009)</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adjhee.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adjhee.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adjhee.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adjhee.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adjhee.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adjhee.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adjhee.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adjhee.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adjhee.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adjhee.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=128&subd=adjhee&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adjhee.wordpress.com/2009/10/05/sebuah-analisa-tentang-korelasi-pendidikan-terhadap-pemberdayaan-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/583fa9f0cc91318fa26fdba6032598e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizkiaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://katblogsit.files.wordpress.com/2009/07/books.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mari Belajar Untuk Salah</title>
		<link>http://adjhee.wordpress.com/2009/05/12/mari-belajar-untuk-salah/</link>
		<comments>http://adjhee.wordpress.com/2009/05/12/mari-belajar-untuk-salah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 12:41:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adjhee</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Hammad bin Salamah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Hazm]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Umar]]></category>
		<category><![CDATA[Malik bin Anas]]></category>
		<category><![CDATA[Muwattha']]></category>
		<category><![CDATA[Nahwu]]></category>
		<category><![CDATA[Sibawaih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adjhee.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Bila engkau tak menanam dan engkau melihat orang yang mengetam,
Maka engkau meneysal karena menyia-nyiakan masa menanam.
(Khalid bin Mi’dan)

Namanya adalah Sibawaih, siapapun yang pernah mendalami ilmu Bahasa Arab dengan mendalam pasti akan tahu persis dengan nama ini. Ya, seorang Imam dalam bidang Nahwu dan pakar dalam kesusasteraan Arab. Namun tahukah, bahwasanya ia menjadi mumpuni dalam bidangnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=120&subd=adjhee&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><em><img class="aligncenter" src="http://politikana.com/images/medium/beri-tanda-apa-centang-silang-atau-garis-mendatar.jpg" alt="" width="336" height="224" />Bila engkau tak menanam dan engkau melihat orang yang mengetam,</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Maka engkau meneysal karena menyia-nyiakan masa menanam.</em></p>
<p style="text-align:center;">(Khalid bin Mi’dan)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Namanya adalah Sibawaih, siapapun yang pernah mendalami ilmu Bahasa Arab dengan mendalam pasti akan tahu persis dengan nama ini. Ya, seorang Imam dalam bidang Nahwu dan pakar dalam kesusasteraan Arab. Namun tahukah, bahwasanya ia menjadi mumpuni dalam bidangnya karena berawal dari kesalahan. Kesalahan yang mengantarkan ia menjadi seorang terkenal dan menjadi hebat dalam bidangnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ceritanya berawal dari belajarnya Sibawaih mendalami ilmu hadits pada gurunya Hammad bin Salamah. Ketika sang guru menyampaikan sebuah kata, <em>“laisa min ashabii illa wa lausyi’ta laa khadzta alayhi laisa abaa darda’”</em> Namun Sibawaih membacanya dengan perkataan. <em>“Laisa Abu ‘d-Darda’.” </em>Sontak sang guru yakni Hammad bin Salamah menyergahnya, <em>“Engkau telah melakukan kekeliruan secara tata bahasa, wahai Sibawaih.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span id="more-120"></span><br />
</em>
</p>
<p style="text-align:justify;">Berbeda dengan masa kini, etos telah menjadikan setiap kali orang salah, maka setiap kali itu pula seseorang akan meninggalkannya dan berjauhan untuk memperbaikinya. Kesalahan dijadikan sebuah alasan untuk tidak menjadi lebih baik, melainkan justru menjadi sesuatu yang memalukan. Kesalahan dalam hal yang memang tidak diketahui menjadikan seseorang untuk tidak bergegas mengetahuinya. Ironis bila dibandingkan Sibawaih yang lantas menguatkan tekad dengan perkataannya, <em>“Sungguh, aku akan mencari ilmu sehingga engkau takkan pernah menyalahkanku lagi!.”</em> Lantas semenjak itulah Sibawaih mendalami ilmu dan melakukan <em>mulazamah</em> (belajar langsung dengan bertatapan muka seorang kepada guru) kepada Al Kholil. Dan waktu menjawab keseriusan tekad berubah menjadi kumpulan cerita hebat. Terkokohkanlah Sibawaih menjadi ahli dalam bidang Sastra dan Bahasa Arab hingga hari ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Cerita yang sama pun datang dari Ibnu Hazm Al Andalusi begawan ilmu dari Andalusia yang mengokohkan kakinya menjadi seorang faqih pada masanya hingga kini. Karya monumentalnya bernama <em>Al Muhalla </em>telah membuat mata penuntut ilmu terhilangkan dahaga soal madzhab fiqh yang sangat saklek. Madzhab <em>dzahihiri</em> yang menghukumi sesuatu melalui tekstual perkara. Ibnu Hazm pun menjadi hebat karena bermula dari sebuah kesalahan. Kesalahan yang mungkin saat ini layak untuk ditertawakan. Sebab sebagian besar orang lebih setuju menghabiskan waktunya untuk menertawakan kesalahan dibanding memperbaiki setiap kesalahan. Ibnu Hazm pernah menceritakan apa yang ia alami sehingga mendorong dirinya untuk mempelajari bahkan mendalami ilmu fiqh. Awalnya ia pernah menghadiri kematian pamannya. Ia memasuki masjid sebelum shalat Ashar, sedangkan di masjid kala itu sedang ada sebuah <em>halaqah</em>. Ia langsung duduk tanpa melaksanakan shalat tahiyyatul masjid. Maka ustadznya saat itu memberikan isyarat pada dirinya agar ia melaksanakan shalat terlebih dahulu. Namun Ibnu Hazm tidak memahami isyarat tersebut. Sehingga orang-orang berada di dekatnya menyindir dengan perkataan, <em>“Apakah kamu telah memasuki usia baligh? Sehingga kamu tidak tahu bahwasanya shalat Tahiyyatul Masjid diwajibkan bagi seseorang yang telah baligh?” </em>padahal ketika itu Ibnu Hazm berusia 26 tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka setelah teguran tersebut Ibnu Hazm bersegera untuk berdiri dan melaksanakan shalat, takkala si mayit telah selesai dikebumikan maka para kerabat mayit masuk ke dalam masjid bersama-sama. Lantas ia pun melakukan shalat tahiyatul masjid kembali. Akan tetapi ia pun salah dengan sikapnya yang kedua, dengan perkataan kerabat-kerabatnya, <em>“Duduk, duduk. Ini bukan waktunya shalat.”</em> (Hal ini dikarenakan shalat masjid hanya dilakukan sekali, dan kemungkinan ketika itu kerabat-kerabat mayit meninggalkan sesuatu benda bahwa akan kembali ke masjid lagi, sehingga tidak perlu melakukan shalat tahiyatul masjid lagi, <em>pen</em>). Dengan keadaan yang merasa malu untuk kali keduanya, Ibnu Hazm segera meninggalkan kerabatnya dan bertanya kepada sang ustadznya tadi agar menunjukkan dimana rumah Asy Syaikh Al Faqih Al Musyawir Abu ‘Abdullah bin Dahwah. Lantas ia pun pergi kesana dan meminta kepada syaikh tersebut untuk meminta arahan kitab apa yang layak dipelajari dalam bidang fiqh. Lantas syaikh tersebut menjamunya dengan <em>Al Muwattha’</em> karya Al Imam Malik bin Anas. Ibnu Hazm menekuni hari-harinya dengan langsungan waktu tiga tahun tanpa kenal henti menggali keluhuran ilmu dari <em>ushul</em> hingga pembagiannya. Dan kini kita bisa merasakan manfaatnya dari <em>ijtihad fiqhiyyah</em> seorang Ibnu Hazm yang pernah malu karena kesalahannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mari Melakukan Kesalahan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Terkadang ada orang-orang yang menjadi hebat karena didahului oleh kesalahan. Ada orang-orang yang mengambil sebuah kesempatan hingga perulangan menjadi kebaikan sekalipun berawal dari kesalahan. Sebab kadang kala seseorang mengejar kesuksesan melalui tangga kesalahan terlebih dahulu. Istilahnya dikenal erat dengan nama kegagalan. Tidak semua kesuksesan memenangkan kesejatian atas kesalahan. Bahkan terkadang dibutuhkan kesalahan agar mengulangnya menjadi sebuah pengalaman pangkal penasaran. Pengalaman yang indah dikenang kala kesuksesan tergenggam dengan erat.</p>
<p style="text-align:justify;">Potensi diri adalah sesuatu yang sangat mahal harganya, tidak bisa dibeli dengan rayuan dan tidak bisa ditawar dengan bayaran tertentu. Keindahan potensi diri tercermin dalam beberapa hal soal bagaimana cara menggalinya. Awalnya adalah sebuah kesadaran akan apa yang dapat dilakukan, tumbuhlah hal tersebut menjadi kesempatan, dan berbungalah disana menjadikannya sebagai sebuah kemampuan, hingga berbuahlah menjadi sebuah harapan. Lantas biarkanlah semua itu terjawab dengan hasil berupa untaian <em>tawakkal </em>sebagai tingkatan tertinggi sebuah jawaban. Itulah bagaimana cara menemukan potensi diri sebenarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sibawaih dan Ibnu Hazm telah melakukannya. Ternyata kesalahan mesti dilakukan bila seseorang berharap kesuksesan. Awalnya memang sesuatu tak terduga, tapi dari ketakterdugaan hal itulah Sibawaih dan Ibnu Hazm menemukan potensi dirinya. Lagi-lagi potensi diri adalah soal keinginan untuk menjadi lebih baik. Dan tidaklah mungkin akan ada kebaikan tanpa sebuah kesalahan. Jangan ragu untuk salah, namun takutlah bila usaha yang dilakukan tidak pernah mengalami kesalahan. Karena bisa jadi suatu kesuksesan tanpa sebuah kesalahan adalah tipuan yang menyesatkan untuk menjadikan seseorang lupa akan dikemanakan kesuksesan itu. Lakukanlah dan jangan takutkan sebuah usaha, kejarlah kesempatan dan jangan menunggu kapan kesempatan itu tiba. Karena kedepan bisa jadi keunikan dari kesalahan yang dimiliki menjadi sebuah letusan momentum keberhasilan bagi orang lain. Bergabunglah bersama Sibawaih, Ibnu Hazm, sebagai sebuah rombongan besar para pembuat kesalahan. Jadikanlah tertawaan itu sebagai bagian dari semangat. Gali potensi diri lebih baik, dan mulailah menanam apa yang dapat kita lakukan hari ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh indah ucapan disaat beliau usai mengucapkan hadits Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, <em>“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).”</em> (HR. Al-Bukhari no. 6416), <em>“</em><em>Bila engkau berada di sore hati maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, janganlah menanti datangnya sore hari. Gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu. Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>WaLLahu ‘Alam bi Shawwab</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adjhee.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adjhee.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adjhee.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adjhee.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adjhee.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adjhee.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adjhee.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adjhee.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adjhee.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adjhee.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=120&subd=adjhee&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adjhee.wordpress.com/2009/05/12/mari-belajar-untuk-salah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/583fa9f0cc91318fa26fdba6032598e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizkiaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://politikana.com/images/medium/beri-tanda-apa-centang-silang-atau-garis-mendatar.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Hebat, Banyak Memuat!</title>
		<link>http://adjhee.wordpress.com/2009/05/10/menjadi-hebat-banyak-memuat/</link>
		<comments>http://adjhee.wordpress.com/2009/05/10/menjadi-hebat-banyak-memuat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 03:12:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adjhee</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[belenggu]]></category>
		<category><![CDATA[cepat]]></category>
		<category><![CDATA[cermat]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[kesempatan]]></category>
		<category><![CDATA[kunci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adjhee.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Tentunya kita pernah mendengar soal cerita kehebatan, betapa banyak kita menyaksikan kehebatan di kehidupan kita yang silih berganti datang tanpa henti. Setiap kehebatan terkadang membuat kita menjadi terkejut tanpa pernah menyadari bahwasanya kita pun pernah mengalami sebuah kehebatan. Hebat adalah sebuah kata yang mudah dipahami, namun budayanya adalah setiap kali kata tersebut mudah dipahami, maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=115&subd=adjhee&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="alignright" src="http://www.digitaljournal.com/img/7/9/9/0/2/2/i/3/8/4/o/all-thumbs-up_1.jpg" alt="" width="304" height="183" />Tentunya kita pernah mendengar soal cerita kehebatan, betapa banyak kita menyaksikan kehebatan di kehidupan kita yang silih berganti datang tanpa henti. Setiap kehebatan terkadang membuat kita menjadi terkejut tanpa pernah menyadari bahwasanya kita pun pernah mengalami sebuah kehebatan. Hebat adalah sebuah kata yang mudah dipahami, namun budayanya adalah setiap kali kata tersebut mudah dipahami, maka setiap kali itu pula hal demikian tak terdefinisi. Rumusan bakunya ialah keumuman apa yang biasa terlontarkan soal hebat dan kehebatan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jangan dikira bahwasanya sebuah kehebatan muncul dari pribadi seseorang itu dengan begitu saja, jangan pernah mengira pula bahwasanya kehebatan itu muncul karena adanya sekedar kebiasaan, sebuah kebiasaan tanpa dikembangkan pun hanya akan kandas tanpa jejak begitu saja. Kehebatan orang-orang yang kita anggap hebat tersebut selain berasal dari usaha yang dilakukan, sesuangguhnya ada faktor lain yang mengantarkannya. Kehebatan bukan hanya soal seseuatu yang diluar kebiasaan. Bahkan kehebatan itu sendiri berada dalam sebuah kebiasaan. Mendahului sesuatu yang belum terpikirkan oleh kebanyakan orang pun adalah suatu kehebatan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-115"></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Kunci Pertama, Kesempatan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak akan ada sebuah kehebatan tanpa sebuah kesempatan, itu kunci yang pertama. Semua orang hebat menjadi hebat berawal dari adanya nilai-nilai kesempatan di depan mata yang tidak ia sia-siakan. Mendasari dengan niat yang lurus serta melacak tanpa henti setiap momentum dalam penerapan kehidupan, sebagai kunci meyakini nilai kesempatan bernama peluang. Betapa usaha akan sia-sia tanpa adanya kesempatan untuk menggenggam kesuksesan. Lihatlah berapa banyak orang hebat itu hidup sukses dengan kesempatan yang mereka genggam erat tanpa lepas bahkan mengikuti kesempatan itu hingga ke muaranya. Betapa Saichiro Honda berhasil meracik mesin pistonnya sendiri dengan cermat dan akurat secara mandiri setelah penawarannya kepada perusahaan tempat ia bekerja tidak menerima piston yang ia buat dan nyatanya ia sukses.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Bagaimana pula Islam menghargai sebuah arti dari kesempatan melalui sabda Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam, <em>“</em><em>Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia lalai daripadanya: nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan.”</em> (HR. Bukhari).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Lihat pula bagaimana seorang Hudzaifah bin Yaman menggunakan kesempatannya dalam bertanya bersama Nabi shallahu ‘alayhi wa sallam, sehingga menjadi sebuah pelajaran penting hingga hari ini. Lihatlah perkataan Hudzaifah bin Yaman yang diabadikan oleh Al Imam Bukhari di dalam Shahihnya, <em>&#8220;Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya.”</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Lalu aku berkata: <em>“Ya Rasulullah, tatkala kami berada dalam kehidupan jahiliyah Allah mendatangkan kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?</em>” Rasulullah menjawab: <em>“Ya.”</em> Aku berkata lagi: <em>“Apakah setelah kejelekan ini ada kebaikan?”</em> Rasulullah menjawab<em>: “ Ya, akan tetapi ada asapnya.”</em> Aku mengatakan: <em>“Apakah asapnya wahai Rasulullah?”</em> Rasulullah menjawab: <em>“Kaum yang mengambil petunjuk selain petunjukku kamu kenal dan kamu ingkari.”</em> Aku berkata: <em>“Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?” </em>Rasulullah menjawab: <em>“Ya, yaitu para da’i yang berada di pintu neraka dan barangsiapa yang memenuhi seruannya, maka akan mencampakkannya ke jurang neraka tersebut.”</em> Lalu kutanyakan kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam: <em>&#8220;Ya Rasulallah, apa yang harus saya perbuat bila saya menghadapi hal demikian .. ..?&#8221;</em> Ujar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam: <em>“Hendaklah senantiasa mengikuti jama&#8217;ah Kaum Muslimin dan pemimpin mereka .. .!&#8221;, </em>Lantas aku bertanya lagi (Hudzaifah)<em> &#8220;Bagaimana kalau mereka tidak punya jama&#8217;ah dan tidak pula pemimpin &#8230;.?&#8221; </em>Maka Rasulullah lantas menjawab, <em>&#8220;Hendaklah kamu tinggalkan golongan itu semua, walaupun kamu akan tinggal di rumpun kayu sampai kamu menemui ajal dalam keadaan demikian &#8230;!&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Ada kesempatan yang memilihkan untuk berada diluar kebiasaan. Karena kesempatan bukanlah milik kebanyakan orang, kesempatan adalah milik mereka-mereka yang tergugah untuk lebih mencapai hasil lebih dalam. Diatas batas apa yang belum terpikirkan oleh orang lain, namun memiliki kekuatan mengguncang penuh nilai dan makna bertahan lama. Begitulah kesempatan menjadi penting dalam setiap perhelatan. Karena disetiap usaha pasti ada peluang, dan di setiap hasil pasti ada kesempatan yang tak terkira sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sudah sepantasnya mereka-merka yang muslim untuk melacak jejak kesempatan dalam berbekal kebaikan diatas kebenaran di dunia. Bukan seperti lamunan kosong dan jeritan hampa kaum kafir yang berharap dikembalikan ke tanah padahal bagi mereka telah terang dan nyata kebenaran Islam serta ancaman hari akhir, namun kesempatan tersebut mereka buang dari dalam hati jauh-jauh. <em>“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:&#8221;Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah.&#8221;</em> (QS. An Naba’ : 40)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Kunci Kedua, Kecepatan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kunci berikutnya selain kesempatan ialah kecepatan, kecepatan yang tepat dan terus berada dalam koridor kecermatan. Cepat tanpa cermat pun tak berguna, yang pasti adalah kecepatan bersama kecermatan. Kecepatan inilah yang merangkai kesempatan tadi. Kesempatan tanpa kecepatan pastilah hilang tanpa berbekas.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Mereka-mereka yang terdidik dalam pembinaan terbaik senantiasa bergegas lepas mengarungi batasan yang menjadikan sekat keleluasaan. Mendobrak pintu kayu kebuntuan dalam berpikir dengan menyajikan ide-ide brilian tanpa kenal lelah dan henti. Selalu ada alternatif yang menjadikan tumpuan dalam kesederhanaan pikiran. Tidak tepikir besar sebelum mengawalinya dengan hal kecil untuk permulaan kemudahan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kecepatan identik dengan kemudahan, sesuatu yang dibuat mudah, niscaya cepat pula menyelesaikannya. Begitulah yang mendasari niat besar Umair bin Al Humam dengan potongan kurma kecil yang ia tidak tunggu habiskan demi menyongsong surga seluas langit dan bumi, disana di barisan siaga tanpa kenal lelah bekerja dan mengejar momentum ada seorang Umar bin Khattab ketika melacak perburuan sosok yang terkabulkan doanya atas ucapan Rasulullah. Ya, sosok yang lekat-lekat bernama Uwais Al Qarni.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kecepatan adalah episentrum keunikan, kecepatan selalu bergerak mengikuti pikiran yang senantiasa terasah dan jiwa yang selalu basah dengan gagasan. Kecepatan menggandeng kecermatan untuk memotret kunci pertama tadi yakni kesempatan. Kecepatan memberikan ilham untuk senantiasa mengejar, bukan menunggu. Sebab dibalik mengejar hasil akan lebih cepat terdapatkan dibandingkan menunggu berpangku menggantung asa dan membeku gerak.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Lihatlah kecepatan yang mengajak para putri Kaisar Yazdajurd pembesar Kisra saat pemerintahannya telah tumbang ditangan khalifah Umar bin Khattab. Maestro hebat bernama Ali bin Abi Thalib memasang harga tinggi untuk ketiga putri kaisar. Janganlah ditanya bagaimana fisiknya para putri kaisar itu. Namu kecepatan menjawab, saat harga putri-putri tersebut bernilai tinggi, tetapi para putri tersebut justru melakukan pilihan. Salah satunya menikah dengan Muhammad bin Abu Bakar sehingga lahirlah pembesar tabiin bernama Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, satunya menikah dengan putra kebangaan Al Faruq yakni Abdullah bin Umar atau lekat dengan nama Ibnu Umar sehingga dari benihnya lahirlah pendekar wara’ bernama Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab, dan putri satunya memilih anak Ali bin Abi Thalib yang mengangkat gandum di tiap malam gelap kedepan pintu para penduduk dhuafa yakni Al Husain bin Ali bin Abi Thalib cucu kebanggaan Rasulullah dan lahirlah darisana Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kecepatan menyisakan mozaik untuk lebih melengkapi sebuah aryi dari kenyataan hidup. Sebab kecepatan mengajak otak untuk bergegas menakar keseimbangan keputusan dan menyadurnya menjadi untaian tolok ukur kesuksesan. Sebagaimana kesempatan, kecepatan pun mengajak pelakunya untuk melirik sesuatu yang belum dilirik orang lain. Waktu terbatas, tiap orang hanya memiliki skema jadwal tentu 24 jam dalam sehari. Maka siapakah yang ingin beruntung. <em>“M</em><em>ereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya</em><em>.” </em>(QS. Al Mu’minuun : 61)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Kunci Ketiga, Harapan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dan yang terakhir ialah harapan, harapan inilah yang melengkapi kedua kunci usaha tadi. Takkan mungkin seseorang berburu kesempatan dan mengejar momentum kecepatan jika tidak berharap sesuatu. Namun harapan bukanlah hasil yang menentukan. Harapan adalah penghibur untuk melaksanakan lebih baik lagi. Sebab bisa jadi usaha belum sesuai dengan hasil yang dicapai. Maka disanalah kunci harapan untuk memuaskan usahanya. Memuaskan agar tetap lapang dan belajar lebih sempurna dalam memperbaikinya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana kisah Abu Mihjan Ats-Tsaqfi radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang tidak bisa melakukan apapaun bila tidak ada perjamuan khamr sebelumnya, tak heran cambukan seringkali diterimanya. Semua orang mengetahui kehebatan Abu Mihjan dalam medan laga membela agama Allah. Namun hanya satu kendalanya, ia masih membanggakan khamr dan menenggaknya, bahkan dalam syairnya ia mengatakan, <em>“Jika aku mati, kuburkan ke batang Anggur. Agar getahnya menyegarkan tulang belulangku setelah kematian. Jangan kuburkan aku di dalam pasir. Karena aku takut jika kematian tidak bisa kunikmati”</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Maka Saad bin Abi Waqqash pun memenjarakannya saat tertangkap dalam pertempuran di Al Qadisiyah sebabnya lagi-lagi soal khamr. Ditengah penahanannya ia berharap untuk membantu kaum muslimin dalam berjihad di kancah laga. Maka ia meminta keringanan kepada Salma istri Saad bin Abi Waqqash untuk memberikan kemudahan dengan jaminan. Bila ia masih hidup maka ia akan kembali ke hukumannya asalkan ia dibolehkan untuk berperang, dan bila ia terbunuh niscaya kalian (mereka yang risih dengan polahnya Abu Mihjan bersama khamrnya) dapat beristirahat dengan tenang. Salma pun mengizinkannya maka ditunggangilah Al Balqa’, kuda perang hebat milik Saad bin Abi Waqqash. Lantas Saad bin Abi Waqqash memuji apa yang dilakukan Abu Mihjan bersama Al Balqa’. Dan Saad bin Abi Waqqash mengatakan, “Serangan hakiki adalah serangan Al Balqa’ dan pukulan yang mematikan adalah pukulan Abu Mihjan.”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Setelah pasukan musuh terkalahkan, maka Abu Mihjan tetap hidup dan kembali menjalani hukumannya. Disanalah Salma sang istri tercinta Sa’ad bin Abi Waqqash menceritakan perihal pembebasan berjaminan Abu Mihjan. Maka Abu Mihjan kembali dipanggil dan dilepaskannya belenggu yang mengikat kakinya serta berkatalah Saad kepadanya, “Berdirilah, demi Allah aku tidak akan mencambukmu selamanya jika engkau minum khamr lagi.” Lantas apa kira jawaban sang penyair untuk khamrnya? Bagi sekarang ini tentunya rukhsah demikian sangat menyenangkan hati. Diberikan kebebasan melakukan kesalahan adalah sebuah kenyamanan melakukan kesalahan tersebut tentunya. Namun tidak bagi Abu Mihjan, ia justru mengucapkan, “ Wallahi aku tidak akan meminum khamr lagi.”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Perhatikanlah, Abu Mihjan mengajarkan untuk meninggikan sebuah harapan. Menjaminkan semuanya dan melakukan segalanya dengan kemudahan. Pendekar laga mulia merasa tak pantas bila kemuliaan jihad terkotori dengan lacurnya khamr. Maka harapan mengajarkan agar lebih menghargai sebuah nilai usaha yang dijejaki. Harapan mendukung sisi sunyi untuk memotivasi lebih berdaya guna bagi keramaian massa. Dorongan untuk bertindak bukan fungsi sedikit bekerja sedikit pula bicara atau sedikit bicara banyak bekerja. Akan tetapi harapan mengajak untuk memperkaya kesedikitan itu demi menyederhanakan aksi selanjutnya lebih banyak lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Itulah kesempurnaan yang mengantarkan seseorang mencapai puncak kehebatan. Jadi, jangan dianggap orang-orang hebat itu menjadi hebat tanpa sebab, tapi adanya sebuah kesempatan yang ia lihat sehingga ia membaca kesempatan itu dengan cepat berdasarkan harapannya untuk menjadi seseorang yang hebat. Hebat tanpa kata dahsyat, sebab cukuplah hebat bisa jadi melalaikan terlebih lagi bagaimana dengan dahsyat?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jadilah hebat tanpa batas dengan cepat membaca kesempatan dan mengharap keberhasilan setelahnya. Ingat, hebat bukan hanya kuat. Akan tetapi hebat juga bernilai cermat.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Wallahu ‘Alam bi Shawwab</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adjhee.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adjhee.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adjhee.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adjhee.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adjhee.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adjhee.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adjhee.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adjhee.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adjhee.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adjhee.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=115&subd=adjhee&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adjhee.wordpress.com/2009/05/10/menjadi-hebat-banyak-memuat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/583fa9f0cc91318fa26fdba6032598e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizkiaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.digitaljournal.com/img/7/9/9/0/2/2/i/3/8/4/o/all-thumbs-up_1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Menguatkan Penantian</title>
		<link>http://adjhee.wordpress.com/2009/05/10/menguatkan-penantian/</link>
		<comments>http://adjhee.wordpress.com/2009/05/10/menguatkan-penantian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 02:46:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adjhee</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Umar]]></category>
		<category><![CDATA[menanti]]></category>
		<category><![CDATA[menunggu]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adjhee.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[
Hari-hari ini nyatanya bukan hanya sekedar usaha saja sebagai sebuah pemenuh kepuasan, hari-hari ini bukan saja sebuah doa menjadi perubah segala keadaan tertentu menjadi tentu, tetapi hari-hari ini adalah hari dimana seseorang membuat penahan atas dirinya tanpa tergesa dalam mencapai apa yang dimau. Tiap detak perjalanan menyibakkan sebuah penantian untuk sebuah pencapaian atas hasil pencitaan.

Ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=113&subd=adjhee&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="aligncenter" src="http://grousepark.files.wordpress.com/2008/12/chairlift-silhouette.jpg?w=466&#038;h=349" alt="" width="466" height="349" /></p>
<p style="text-align:justify;">Hari-hari ini nyatanya bukan hanya sekedar usaha saja sebagai sebuah pemenuh kepuasan, hari-hari ini bukan saja sebuah doa menjadi perubah segala keadaan tertentu menjadi tentu, tetapi hari-hari ini adalah hari dimana seseorang membuat penahan atas dirinya tanpa tergesa dalam mencapai apa yang dimau. Tiap detak perjalanan menyibakkan sebuah penantian untuk sebuah pencapaian atas hasil pencitaan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ada kekuatan besar sejatinya dibalik nilai-nilai penantian. Penantian yang tentunya memiliki sebuah usaha untuk menggapainya. Bukan sekedar penantian tanpa batasan waktu jelas, ataukah penantian yang semakin membebankan, atau pun penantian dengan api emosi terpendam. Penantian adalah sebuah keindahan. Bukankah tidak semua hal yang diinginkan pun terkadang membuat seseorang menunggu hasilnya. Dan Allah sebagai Maha Pemberi pastinya mengetahui kapan waktu hasil tersebut mesti diberikan kepada hambanya. Dan Allah pun Maha Melihat dari tiap usaha hambanya. Penantian dari sebuah usaha agar mendapatkan hasil yang paripurna. Bukankah pula ada memang mereka-mereka yang mencintai dan serius menikmati indahnya</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-113"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah ucapan indah seorang Ibnu Jauzi soal penantian, ya penantian atas sebuah usaha pertobatan dengan harap doa terkabulkan, “Aku ingin beribadah dengan doa dan aku juga yakin suatu saat, doaku pasti dikabulkan. Hanya saja, mungkin tidak sekarang dikabulkan, demi kemaslahatanku yang akan datang pada waktunya nanti. Dan jika tidak dikabulkan pun, aku sudah beruntung bisa beribadah dan menyerahkan diri kepada Allah.” Begitulah penantian, selalu ada saja hikmah yang mengiringinya. Bisa jadi apabila tidak menanti, kita mendapatkan hasil yang ternyata lebih banyak madharatnya. Nikmatilah penantian jangan tergesa memaksakan tanpa perkiraan. Sebagaimana Jundub bin Junadah radhiyallahu ‘anhu diantara dakwahnya pada Bani Ghifar dan Bani Aslam.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Penantian Bani Ghifar dan Aslam</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Termasuk juga generasi pertama yang masuk Islam adalah Abu Dzar Al-Ghifari. Dia adalah seorang dari Arab gunung (Badui) yang manis tutur katanya dan fasih (demikianlah keistimewaan orang-orang Badui dalam segi bahasa mereka sangat fasih, pen).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ketika dia mendengar diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dia menyuruh saudaranya: &#8220;Naikilah kendaraanmu ke lembah ini dan beritahu aku tentang berita orang yang mengaku nabi dan datang kepadanya berita dari langit! Dengarlah ucapannya, dan bawalah kemari.&#8221; Maka berangkatlah ia sampai datang ke Makkah. Di sana ia mendengar ucapan Rasul shallallahu alaihi wa sallam, kemudian kembali kepada Abu Dzar dan berkata: &#8220;Aku melihat dia menyuruh agar kita berakhlak yang mulia dan dia mengucapkan ucapan yang bukan sya&#8217;ir.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Abu Dzar berkata: &#8220;Engkau tidak mencukupi apa yang aku inginkan.&#8221; Kemudian dia mempersiapkan bekalnya, membawa tempat airnya dan berangkatlah beliau ke Makkah. Beliau mendatangi masjid dan mencari-cari Nabi shallallahu alaihi wa sallam (dalam keadaan tidak mengenalinya). Tapi dia tidak suka untuk bertanya tentangnya, karena dia mengetahui kebencian Quraisy kepada setiap orang yang berhubungan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ketika datang waktu malam, Ali radhiallahu anhu melihat dia. Maka tahulah Ali radhiallahu anhu bahwa dia orang asing. Diajaknya dia sebagai tamunya di rumahnya. Ali tidak bertanya tentang sesuatu (tujuan atau keperluan) satu sama lain sesuai dengan kaidah dalam menghormati tamu di kalangan Arab, yaitu tidak bertanya tentang tujuan dan maksud kedatangannya, kecuali setelah tiga hari.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pada pagi harinya, kembali dia membawa tempat air dan bekalnya ke masjid sampai habis hari itu dan dia belum melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Maka ketika petang hari, dia kembali ke pembaringannya di masjid. Kemudian Ali melewatinya dan berkata: &#8220;Bukankah sudah waktunya seorang untuk mengetahui rumah yang kemarin dia diterima sebagai tamunya?&#8221; Maka dibangunkannya kemudian pergi bersamanya, juga tak saling bertanya satu sama lainnya. Pada hari yang ketiga, kembali dia seperti tadi, maka Ali berkata kepadanya: &#8220;Tidaklah engkau mau mengabarkan kepadaku apa yang menyebabkan engkau datang kemari?&#8221; Dia berkata: &#8220;Kalau engkau mau memberikan janji kepadaku mau menunjukkan aku, akan kerjakan (menjawab).&#8221; Maka Ali memberikan janjinya dan dia mengabarkan. Ali berkata: &#8220;Sesungguhnya itu adalah haq. Dia adalah utusan Allah. Jika pagi hari nanti, ikutilah aku. Kalau aku melihat sesuatu yang aku khawatirkan atasmu aku berhenti, seakan-akan aku menuangkan air. Dan jika aku berjalan, ikutilah aku sampai engkau masuk ke tempat aku masuk.&#8221; Abu Dzar pun mengerjakan yang demikian. Dia berangkat mengikuti jejak Ali sampai masuk ke tempat Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan mendengarkan ucapannya. Di situ beliau masuk Islam dan berkatalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam: &#8220;Pulanglah engkau ke kaummu dan khabarkanlah kepada mereka (tentang aku) sampai datang perintahku.&#8221; Dia berkata (Abu Dzar): &#8220;Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku akan menyeru dengannya di tengah-tengah mereka (kaum Quraisy).&#8221; Dia segera keluar hingga mendatangi masjid berseru dengan sekeras suaranya: &#8220;Asyhadu anla ilaha Illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah!&#8221; Maka bangkitlah kaum Quraisy dan memukulinya hingga ia terbaring. Abbas pun datang memarahi mereka dan mengucapkan: &#8220;Celaka kalian! Tidakkah kalian tahu bahwa dia dari suku Ghifar? Jalan perdagangan kalian ke Syam melewati mereka.&#8221; Abbas segera menolongnya dan menyelamatkannya dari mereka. Tetapi kembali Abu Dzar mengulanginya pada keesokan harinya dan kembali mereka memukulinya sampai Abbas datang kembali. (HR. Bukhari dalam Manaqibul Anshar dan Muslim dalam Fadha`il Shahabah), dan dalam riwayat lain berisi sambungan hadits tersebut yakni Rasulullah menyuruh Abu Dzar kembali ke kaumnya. Dan menunggu berita selanjutnya dari Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam. Hingga akhirnya suatu ketika Rasulullah berpapasan dengan jumlah orang banyak ketika perjalanan safar. Menemukan sebagian besar Bani Ghifar dan Bani Aslam telah masuk Islam atas upaya Abu Dzar. Berkatalah Rasulullah, “Semoga Allah mengampuni Suku Ghifar, dan memberikan keselamatan atas Suku Aslam”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Mengindahkan Penantian</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Indahnya sebuah penantian berakhir doa yang menjanjikan. Bukankah memang kita hidup hanya penuh dengan penantian sebagai sebuah jawaban pasti dari usaha yang tiap detak gerik dilakukan. Bukankah hari ini kita sama-sama menanti kematian? Dan kita mengetahui soal dahsyatnya hari-hari setelah kematian? Begitulah penantian. Tidak mesti selamanya menjenuhkan dan membosankan. Selagi upaya telah berjalan, maka biarkanlah penantian mengisi selang jawaban untuk mengakhiri hasilnya pada tabung keputusan. Ada kala tabung itu berisi sangat pelan, namun pasti akan penuh sekalipun waktunya berlama jalan. Bisa pula cepat terisi dengan sangat seiring tekanan yang kuat dari aliran hulunya menuju hilir tanpa sumbatan. Penantian, mengajarkan kita untuk lebih banyak sadar memupuk kesabaran.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Bukan penantian konyol yang disajikan para kaumnya Musa ‘alayhissalam, <em>Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada kaumnya: &#8220;Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain&#8221;. Musa berkata: &#8220;Hai kaumku, masuklah ke tanah Suci (Palestina) yang Telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), Maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. Mereka berkata: &#8220;Hai Musa, Sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah Perkasa, Sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya&#8221;. Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah Telah memberi nikmat atas keduanya: &#8220;Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman&#8221;. Mereka berkata: &#8220;Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, Karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja&#8221;. Berkata Musa: &#8220;Ya Tuhanku, Aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu&#8221;. Allah berfirman: &#8220;(Jika demikian), Maka Sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.&#8221;</em> (QS. Al_Maa’idah : 21-26).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Penantian terindah ialah saat mengerjakan apa yang dapat dilakukan dan terdekat dengan momentum termudah untuk dikejar, sebagaimana Ibnu Umar berkata disaat beliau usai mengucapkan hadits Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416), “Bila engkau berada di sore hati maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, janganlah menanti datangnya sore hari. Gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu. Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu.”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Maka janganlah bermurung durja dalam menanti, sebab demikian menyumbat hasil atas jawaban yang diingini. Akan tetapi hiasi momentum penantian dengan manfaat yang menyisakan penantian berikutnya. Agar ketika satu penantian terjawab memuaskan, maka telah ada usaha yang terserahkan untuk dinanti jawaban berikutnya. Berputar mengisi tanpa henti aliran deras penuh tekanan bernama ketawakalan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Wallahu ‘Alam bi Shawwab</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adjhee.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adjhee.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adjhee.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adjhee.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adjhee.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adjhee.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adjhee.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adjhee.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adjhee.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adjhee.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=113&subd=adjhee&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adjhee.wordpress.com/2009/05/10/menguatkan-penantian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/583fa9f0cc91318fa26fdba6032598e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizkiaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://grousepark.files.wordpress.com/2008/12/chairlift-silhouette.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Saatnya Meng-audit Maulid</title>
		<link>http://adjhee.wordpress.com/2009/03/12/saatnya-meng-audit-maulid/</link>
		<comments>http://adjhee.wordpress.com/2009/03/12/saatnya-meng-audit-maulid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 13:41:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adjhee</dc:creator>
				<category><![CDATA[wacana]]></category>
		<category><![CDATA[gang kecil]]></category>
		<category><![CDATA[maulid]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[shahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adjhee.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah
 
Dengan memohon ridha dari Alloh subhanahu wa ta’ala dan semata-mata untuk menjelaskan kepada masyarakat umum, akan suatu hal yang bersangkutan dengan kebiasaan dan kegiatan yang telah menjadi darah-daging di kalangan masyarakat muslim. Khususnya di pihak para muslimin yang masih awwam tentang hakikat dien ini.
 
Insya Alloh kali ini kita akan membahas sisi lain dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=111&subd=adjhee&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><img class="alignright" src="http://blogs.trb.com/sports/baseball/blog/audit.jpg" alt="" width="215" height="269" />Bismillah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Dengan memohon ridha dari Alloh subhanahu wa ta’ala dan semata-mata untuk menjelaskan kepada masyarakat umum, akan suatu hal yang bersangkutan dengan kebiasaan dan kegiatan yang telah menjadi darah-daging di kalangan masyarakat muslim. Khususnya di pihak para muslimin yang masih awwam tentang hakikat dien ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Insya Alloh kali ini kita akan membahas sisi lain dari sebuah kegiatan Maulid Nabi yang disebut telah menjadi sunnah dan sangat kurang rasanya bila tidak diamalkan oleh kaum muslimin setiap tahunnya. Tidaklah tulisan kali ini akan membahas apakah benar bahwa Maulid Nabi itu penuh dengan kebid’ahan, kesesatan, dan tidak pernah dijalankan oleh para Sahabat Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun itu adalah anggapan sebuah sunnah, maka mengapa para sahabat ceroboh hingga masa mereka tidak ada satupun yang melakukan peringatan Maulid Nabi. Orang yang mereka (para sahabat radhiayallohu ‘anhum) selalu cintai dan tidak mungkin mereka menyia-nyiakan suatu amal yang oleh masyarakat muslim saat ini dianggap agung, tapi satupun sahabat tidak mengagungkannya pada saat itu. Tidak bukan itu semua, sebab penulis meyakini telah banyak yang menjelaskan tentang permasalahan ini dan dirinci di berbagai situs website muslim yang berjalan diatas kebenaran. Walhamdulillah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span id="more-111"></span><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Perayaan Maulid telah usai, ada yang bahagia karena acaranya sukses, ada yang merana karena panitia harus menalangi dana tak terkira dari penyelenggaraan yang bersifat bersama. Dari mulai perayaan mewah di aula, balai desa, lapangan warga, auditorium kerja, sampai menyewa tenda layaknya pesta, hingga di gang kecil sudut pemukiman kumuh yang memiliki tempat ibadah bernama Musholla. Semua ikut ambil peranan, ikut meminta bagian, berkontribusi mencari posisi, dan banyak kepentingan terselubung yang hanya Allah dan diri oknum pribadi yang mengetahui. Entah bisa bersifat momen yang sayang untuk dilewatkan, ataukah peluang kerjasama yang sungguh riskan bila tidak digunakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Saudaraku, perlu dipahami bahwa bila setiap kesalahan mesti selalu dikoreksi dan diluruskan kesalahannya, setiap kegiatan yang melibatkan banyak aktivitas dan menyita anggaran saja harus mendapatkan audit dan evaluasi, setiap kendaraan yang rusak mestilah di perbaiki di tempat yang mengeluarkan jenis kendaraan itu. Maka izinkanlah kita melihat sisi lain dari Maulid Nabi yang seringkali diperingatkan dan dirayakan dengan semarak dari tahun ke tahun, melalui kacamata penuh kesadaran dan pandangan penuh ke-arifan dalam menyikapinya. Izinkanlah tulisan ini menjadi suatu evaluasi tentang kegiatan rutin yang mestilah ada setahun sekali ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Penulis berharap dari tulisan ini manfaat yang banyak bagi kaum muslimin, penulis pun berharap bila terdapat kesalahan dari tulisan ini mestilah di koreksi kembali dan diluruskan oleh orang yang ahli dan lebih paham dari pada yang menuliskannya, dan penulis pun merasa meminta maaf bila nantinya terdapat kata-kata yang kurang sopan dan menyindir pihak-pihak tertentu dan merasa dirugikan karenanya. Tapi penulis sangat berharap bila pihak tersebut mau jujur dan mengakuinya maka tidaklah ada jalan lain selain kebenaran dan tidak ada alasan lain selain kembali untuk rujuk kepada kebenaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN">Pembahasan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Saudaraku yang semoga anda dirahmati oleh Alloh subhanahu wa ta’ala, sudah menjadi sesuatu yang maklum dan terkenal di kalangan kaum muslimin khususnya di Indonesia. Berbagai macam peringatan-peringatan dan perayaan-perayaan keagamaan yang dimiliki oleh berbagai agama di Indonesia. Diantaranya adalah peringatan hari besar Islam, bahkan di beberapa kepanitiaan dan kepengurusan DKM di tiap mesjid mestilah ada bagian / divisi yang mengurusi masalah ini, lazim kita dengar dengan Seksi PHBI ( Perayaan Hari Besar Islam ).<span> </span>Kepanitiaan / seksi tersebut bertugas menjalankan fungsi mesjid menjadi sarana pusat kemajuan ummat dan basis silaturahmi ummat di suatu lingkungan masyarakat. Panitia tersebut memiliki <em>job description</em> yang bertugas untuk menyiapkan segala rangkaian acara yang berkaitan dengan Hari Besar Islam. Namun sayangnya seringkali kepanitiaan ini yang seharusnya memiliki tugas paling vital dan senantiasa berhubungan dengan masyarakat tanpa disadari justru lolos dari evaluasi dan <em>follow up</em> yang komprehensif pasca berlangsungnya sebuah acara Hari Besar Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Diantara beberapa hal yang mesti di audit/evaluasi ialah perayaan Maulid Nabi (satu dari berbagai macam acara peringatan dan perayaan dalam Islam). Mestilah diketahui bahwa di setiap kepanitiaan terdapat agenda wajib tiap tahunnya untuk melaksanakan acara ini, namun sayangnya sebagaimana yang diutarakan sebelumnya lagi-lagi acara ini pun lolos dari evaluasi secara komprehensif. Sekalipun ada tidak lain melainkan rapat pembentukan panitia dan rapat pembubaran panitia, dan hal ini berlangsung setiap tahunnya. Sungguh sangat disayangkan dan mengecewakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Salah satu sisi dari Maulid ini yang diantara beberapa point yang ada nanti Insya Alloh adalah pemborosan. Mengapa hal ini dikategorikan sebagai pemborosan, padahal sebagian orang berprinsip bahwa ini merupakan suatu bentuk pengorbanan dalam beribadah yang ditujukan untuk mencintai<span> </span>Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam ??. <span> </span>Jawabannya adalah berapa banyak dana kaum muslimin tercurah hanya untuk kegiatan seperti ini setiap tahunnya. Namun yang terjadi adalah banyaknya biaya tidak seimbang dengan banyaknya ilmu yang diterima oleh kaum muslimin pada umumnya setelah kegiatan seperti itu. Berapa banyak pula susunan kepanitiaan dan sumbangan yang masuk kedalam kas masjid untuk perayaan ini. Berapa banyak pula pembicara-pembicara yang justru sebagian besar bukan dari bidang disiplin keilmuan agama yang mumpuni dan kredibel di undang tanpa hasil bagi warga sekitar yang jelas dan nyata pasca peringatan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Sungguh sangat disayangkan. Perhatikan bila sesuatu yang berguna saja mestilah ditinggalkan, bagaimana bila itu tak berguna bahkan mendatangkan kemubadziran. Padahal Rabbuna Azza wa Jalla telah berfirman :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="IN">“ Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” </span></em><span lang="IN">( QS. Al Isra’ : 27 )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Evaluasi berikutnya adalah, adakah peningkatan ibadah yang dimiliki oleh para jama’ah yang menghadirinya. <em>Na’am</em> tidak dipungkiri para ustadz, kiyai, mubaligh, khathib, dan para penceramah yang seringkali diundang ke dalam sebuah majelis Maulid tersebut selalu menekankan pentingnya mencintai Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam namun apalah yang terjadi sesudahnya setelah usai perhelatan, kaum muslimin kembali ke rumahnya dan menjalani hari-harinya dengan tanpa penambahan yang signifikan pada peningkatan kualitas ibadah mereka terlebih dalam apa yang mereka lakukan secara komprehensif setelah acara peringatan, dan sudahkah sunnah Rasululloh mereka lakukan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Bukankah kita mengetahui suatu hadist yang mulia yang disabdakan oleh orang yang dicintai kaum muslimin, yaitu Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">“ <em>Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya.</em> “ ( HR. Tirmidzi, Hadist Hasan. Terdapat pula di dalam Arbain An Nawawiyah, hadits ke-12 ). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Maka sepantasnyalah bagi seorang muslim melihat suatu kegiatan khususnya dalam beribadah kepada manfaat yang dihasilkan bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu apakah perbedaan dan kesalahan ini terjadi pada sang penceramah yang menyampaikan ceramah ?, ataukah para jamaah yang menghadirinya dengan harapan <em>taqarrub ilallah</em> ? namun ternyata apa yang ia dapatkan tidak dipraktekkan, atau bisa jadi kedua-duanya tidak memiliki nilai substansif yang pantas untuk dilakukan. Sungguh mestilah hal ini wajib dilakukan evaluasi bagi setiap panitia seksi PHBI. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Sebagai indikator kecil ketika penceramah mungkin menyampaikan tentang indahnya shalat berjamaah, maka hitunglah berapa banyak hadirin yang bertambah ketika shalat berjamaah. Apakah masih diisi oleh golongan tua dan lanjut usia, ataukah pemuda yang sering menjadi panitia sebagai bagian dari remaja masjid yang produktif dalam hal usia?, atau justru lebih berbahaya lagi arus feed back antara hadirin yang menerima ceramah dengan penceramah tidak lain hanya penuh canda dan gelak tawa seperti pemeran komedi dalam layar kaca?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Evaluasi selanjutnya adalah berapa banyak perkataan kecintaan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam diucapkan, berapa banyak syair-syair diperdendangkan hingga menitikkan air mata, berapa banyak untaian-untaian mahligai perkataan pujian dari para khatib, muballigh, da’i, habaib, ustadz dan yang lainnya dalam setiap peringatan yang diadakan. Namun keyataannya ialah mengapa hal itu hanya terjadi pada saat peringatan itu saja ?? bukan, bukan berarti tuduhan ini memvonis bahwa penulis tidak memahami hakikat dari para da’i-da’i peringatan tersebut sungguh bukan. Namun yang disoroti ialah mengapa perubahan itu tak kunjung datang setelah 60 tahun bangsa ini merdeka ?? bukan pula ini kalimat pesimis tetapi apakah layak kalimat kecintaan yang diucapkan sementara hal yang demikian tidak memberikan dampak positif yang membawa kepada kemajuan dan perubahan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Sehingga yang terjadi ialah kehidupan beragama bangsa Indonesia tidak memiliki kemajuan di hati rakyatnya. Yang ada hanya setiap setahun sekali terdiri dari beberapa peringatan dan perayaan, bersiap mengumpulkan dana dan membentuk kepanitiaan. Tidak ada kecendrungan untuk memegang syariat Islam secara kaffah disebabkan sebagian da’i telah berlaku malpraktek dalam berdakwah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Tak jarang da’i santer menyerukan syariat Islam kepada jamaahnya, namun ia sendiri yang berada di garis terdepan meninggalkannya. Melalaikan kewajiban dengan mengundur waktu, dan meninggalkan sunnah (tak sedikit juga menghujatnya karena ketidak tahuan mungkin), serta mengejek mereka-mereka yang berbeda pendapat karena ingin meluruskan bahwa perayaan-perayaan tersebut salah adanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Sungguh semua itu haruslah diluruskan, tujuan harus senantiasa digariskan, dan sasaran mestilah harus tepat untuk ditegaskan. Jangan hanya membuang biaya, waktu dan tenaga. Namun semua itu menjadi hilang sirna hanya sekedar menjalankan sebuah ritual kebiasaan saja. Serasa ada yang hilang ketika tidak menyelenggarakan dan akan bersalah bila tidak memperingatinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Ambillah pelajaran dari setiap kegiatan tentang adakah manfaat yang banyak bagi penerima, pelaksana, dan yang menyampaikan. Sebab salah satu ciri seorang muslim ialah ia senantiasa mengambil manfaat dari apa yang ia kerjakan dan membuahkan maslahat terhadap setiap kejadian. Tidak akan baik generasi akhir dari ummat ini sebelum mereka mengembalikan apa-apa yang menjadikan generasi awal ummat ini baik, itulah yang di nasehatkan oleh Al Imam Malik bin Anas rahimahullah. Juga sebuah nasihat dari Al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat disela-sela pelajaran Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari beberapa tahun silam, <em>“Berusahalah agar ummat ini layak ditolong oleh Allah, dan tidak akan datang pertolongan Allah melainkan kita kembali kepada ajaran Islam dengan sebenar-bearnya”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Mari benahi bersama setiap kekeliruan yang ada, dengan merumuskan kembali orientasi dasar tentang setiap kegiatan. Jangan hanya sekedar kuantitas yang ditekankan tapi kualitaslah yang mesti dikedepankan. Kembali kepada ajaran Islam yang benar itu adalah sebuah keharusan. Mengembalikan segalanya kepada Al Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman sahabat ridwanallohu ‘alayhim jami’an adalah kepastian. Bukankah seseorang pernah berkata <em>“Tegakkan daulah Islam terlebih dahulu pada dirimu, maka daulah Islam akan tegak di wilayahmu”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="IN">Wallahul Musta’an..</span></em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adjhee.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adjhee.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adjhee.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adjhee.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adjhee.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adjhee.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adjhee.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adjhee.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adjhee.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adjhee.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=111&subd=adjhee&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adjhee.wordpress.com/2009/03/12/saatnya-meng-audit-maulid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/583fa9f0cc91318fa26fdba6032598e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizkiaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blogs.trb.com/sports/baseball/blog/audit.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkat Maulid Nabi</title>
		<link>http://adjhee.wordpress.com/2009/03/12/sejarah-singkat-maulid-nabi/</link>
		<comments>http://adjhee.wordpress.com/2009/03/12/sejarah-singkat-maulid-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 13:33:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adjhee</dc:creator>
				<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adjhee.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Orang yang pertama kali mengadakan bid’ah ini adalah Bani Ubaid Al-Qadah yang menamakan diri mereka dengan kelompok Fathimiyah (yang nantinya menjadai dinasti Fathimiyah) dan mereka menisbatkan diri kepada putra Ali bin Abi Thalih radhiyallohu anhu. Padahal sebenarnya mereka adalah peletak dasar untuk mendakwahkan aliran kebatinan (yang selanjutnya ana sebut menjadi bathiniyah).

Pada tahun 402 H. sekelompok’ulama, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=109&subd=adjhee&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><img class="alignleft" src="http://files.myopera.com/74ya/blog/Kubah%2520Makam%2520Rasul.jpg" alt="" width="283" height="211" />Orang yang pertama kali mengadakan bid’ah ini adalah Bani Ubaid Al-Qadah yang menamakan diri mereka dengan kelompok Fathimiyah (yang nantinya menjadai dinasti Fathimiyah) dan mereka menisbatkan diri kepada putra Ali bin Abi Thalih radhiyallohu anhu. Padahal sebenarnya mereka adalah peletak dasar untuk mendakwahkan aliran kebatinan (yang selanjutnya ana sebut menjadi bathiniyah).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pada tahun 402 H. sekelompok’ulama, qadhi.orang-orang mulia, orang-orang adil, shalihin, para fuqaha, dan muhaditsin menyampaikan kuliah tentang celaan terhadap nasab Al Fathimiyah Al Abidiyah (bani Ubaid Al-Qadah). Mereka semua bersaksi bahwa pemimpin Mesir kala itu yaitu Manshur bin Nazzar (lihat biografinya di Al Bidayah wa Nihayah Ibnu Katsir XII/10-12) yang diberi gelar dengan Al Hakim bin Ma’ad bin Ismail bin Abdullah bin Sa’id ketika sampai di negeri Maghrib (Morocco sekarang-pen) mengganti nama dengan Ubaidillah dan membuat gelar dengan nama Al Mahdi. Para pendahulu mereka (nenek moyang dari bani Ubaid/Abidiyun) adalah penganut aliran Khowarij dan tidak ada nasab sama sekali dengan putra Ali bin Abi Thalib radhiyallohu anhu. Dengan jelas ana tegaskan bahwa keturunan pembuat bid’ah maulid Nabi ini adalah anak-cucu khawarij (sekte paling ekstrem dalam islam). Hingga akhirnya mereka meyelusupkan dirinya kedalam barisan Syi’ah Rafidhah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-109"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Al Qadhi Al Baqillani, seorang ahli kalam terkenal pada masanya yang bemazhab Asy’ariyah mengatakan di dalam kitabnya (Kasyfu Al Asraar wa Hatki Al Astaar) “Mereka adalah kaum yang menampakkan paham rafidhah (syi’ah) secara lahir dan menyembunyikan ke kafiran” (antum akan menemukan di banyak kitab bahwa mereka adalah kalangan zindiqah wal munafiqqin, lihat Al Bidayah XI/387).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang mereka adalah “begitu juga dalam hal nasab mereka dan menyebutkan bahwa mereka adalah keturunan orang Majusi dan Yahudi” (perhatikanlah ini wahai pecinta Maulid !!!)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sekali lagi kami ulangi bahwa orang yang pertama kali mengadakan acara buruk ini adalah kelompok Bathiniyah yang ingin mengubah agama manusia dan memasukkan di dalamnya apa yang tidak termasuk bagian darinya, untuk menjauhkan manusia dari agama mereka, lalu menyibukkan mereka dengan bid’ah, suatu jalan yang paling mudah untuk mematikan sunnah dan menjauhkan mereka dari syariat Alloh yang mudah dan Sunnah Rasululloh shalallaahu ‘alaihi wa salam yang suci.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kelompok Abdiyah (abidiyun/ bani Ubaid) masuk Mesir pada tahun 362 H, hari kamis bulan Ramadhan (lihat Al Bidayah wa Nihayah XI/306). Dan itulah awal kekuasaan mereka terhadap Mesir yang selanjutnya mereka namakan dengan dinasti Fathimiyah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ada yang mengatakan mereka masuk Mesir pada hari selasa tangga l 7 bulan Ramadhan tahun 362 H. bid’ah peringatan Maulid Nabi secara umum dan khususnya terjadi pada masa kepemimpinan Abidiyun ini, yang sebelumnya belum pernah dilakukan oleh siapapun.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Tidak hanya peringatan Maulid Nabi, tetapi mereka juga menyelenggarakan Maulid yang lainnya diantaranya : Maulid Ali bin Abu Thalib, Maulid Fathimah Az Zahra, Maulid Hasan-Husain, peringatan awal malam bulan Rajab, malam Nishfu sya’ban, awal malam Ramadhan, pertengahan dan akhir Ramadhan, hari raya idul fitri secara bid’iyah beserta hari raya idul adha, dan lain-lain. Perhatikanlah tujuan mereka sesungguhnya bukanlah meninggikan kemurnian islam tetapi tujuan mereka adalah menyebarluaskan aliran Ismailiyah Bathiniyah yang mereka anut dan akidah rusak mereka di kalangan manusia<span> </span>serta menjauhkan manusia dari akidah yang benar dan ajaran yang murni dengan cara mengadakan peringatan bid’iyah tersebut agar mendapatkan keuntungan harta pula melalui peringatan tersebut. (perhatikanlah ini wahai muslimin tradisionaliyun !!!)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Bila itu sejarah yang terjadi bahwa peringatan tersebut tidak dari islam dan bukan syariat islam, lantas diantara kaum muslimin masih saja merayakannya. Seperti keterangan di atas mereka adalah aliran bathiniyah yang lebih busuk dari syi’ah rafidhah yang busuk, dan lebih sadis dibandingkan dengan khowarij yang sangat sadis. Perhatikanlah ini!!! Sunnah siapa yang lantas kita ikuti??? Dan untuk apa kita saat ini merayakannya??? Bukankah sesuatu yang tak pernah ada contohnya menjadi tertolak??? Lantas untuk apa kalian memgumpulkan dana untuk acara besar dalam rangka Maulid??? Apa bedanya kalian dengan kaum Nasrani yang mengadakan Natal kalian mengadakan Maulid??? Apa maksud tasyabuh kalian?? Benarlah ternyata peringatan saat ini justru kembali lagi dengan alasan harta untuk para ustadz, terkenal untuk para penyelenggaranya, dan buang-buang biaya dan waktu diantara para pemuda.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Wahai penggerak islam jangan kau jadikan sisa hidupmu menyelenggarakan acara yang tak ada gunanya. Amalan kalian tertolak dan menjadi seperti debu yang beterbangan tak bernilai di sisi Alloh. Dasar kalian menyelenggarakan acara tersebut adalah tertolak sebab para shahabat radhiyallohu anhum tak pernah mengadakannya karena mereka yang paling tahu islam, paling dekat dengan Rasululloh, dan paling tahu bagaimana memuliakan Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa sallam. Lantas siapakah yang kalian jadikan pedoman dalam hal ini???</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Wallahu ‘alam bi showwab.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">maraji</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Al Bida’ Al Hauliyyah dan Fatawa Tata’allaq bil Maulid An Nabawi (edisi Indonesia “adakah maulid Nabi ?? penerbit Darul Falah Jakarta) Penulis Abdullah bin Abdullah At Tuwaijiry dan Dakhihulah bin Bakhit Al Mathrafi.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adjhee.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adjhee.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adjhee.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adjhee.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adjhee.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adjhee.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adjhee.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adjhee.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adjhee.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adjhee.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=109&subd=adjhee&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adjhee.wordpress.com/2009/03/12/sejarah-singkat-maulid-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/583fa9f0cc91318fa26fdba6032598e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizkiaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://files.myopera.com/74ya/blog/Kubah%2520Makam%2520Rasul.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Lebih Baik Dahulu</title>
		<link>http://adjhee.wordpress.com/2009/03/01/lebih-baik-dahulu/</link>
		<comments>http://adjhee.wordpress.com/2009/03/01/lebih-baik-dahulu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 05:09:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adjhee</dc:creator>
				<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adjhee.wordpress.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[   
Sobat-muda dimanapun berada, tentunya sobat-muda menyangka berapa banyak usia yang dihabiskan dalam kehidupan ini penuh dengan isi yang berbeda dan penuh warna. Bisa jadi ada suka dan duka maupun canda dan lara.. Hayoo, tanyakan pada dirimu kini lebih baik mana sekarang ataukah yang lalu dalam aktivitas ke-Islamanmu? Jika jawabnya lebih baik sekarang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=103&subd=adjhee&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--> <!--[if gte mso 10]&gt;-->  <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="IN"><img class="alignleft" src="http://www.brettdaniel.com/pictures/oldweblog/chair/afterbefore.jpg" alt="" width="219" height="185" />Sobat-muda</span></em><span lang="IN"> dimanapun berada, tentunya <em>sobat-muda</em> menyangka berapa banyak usia yang dihabiskan dalam kehidupan ini penuh dengan isi yang berbeda dan penuh warna. Bisa jadi ada suka dan duka maupun canda dan lara.. Hayoo, tanyakan pada dirimu kini lebih baik mana sekarang ataukah yang lalu dalam aktivitas ke-Islamanmu? Jika jawabnya lebih baik sekarang dibandingkan yang lalu maka <em>alhamdulillah </em>semoga tetap istiqomah. Jika lebih baik dahulu maka semoga Allah menunjukkan kamu kepada kebaikan dan petunjuk hidayah sebagaimana dahulu, <em>allohumma amiin&#8230;</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><em><span id="more-103"></span><br />
</em></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Pernah mendengar <em>gak</em> kamu, sebuah perkataan hari ini lebih baik daripada kemarin dan hari esok lebih baik dari sekarang? Sebuah perkataan yang sangat lazim terdengar atau terbaca di dinding sekolah, acapkali bagi kita dalam memotivasi agar hidup harus mencapai pada titik pusat keberhasilan dan kesuksesan dengan baik serta paripurna</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Tapi, pernahkah berfikir bahwasanya semboyan tersebut kadang tidak pas bila diterapkan dalam kehidupan keseharian kita. Khususnya dalam hal yang menyangkut antara hubungan seorang hamba dengan Rabbnya<em>. Sobat-muda</em>, mungkin bagi kalian ini sebuah pernyataan ambigu yang bisa jadi sudut pandang tersendiri pada kali ini dibandingkan dengan apa yang sebelumnya kamu dapat. Namun semoga kita dapat menemukan contoh riil dalam membahas ini dengan timbangan yang tepat dan neraca standar penuh keseimbangan. Penulis hanya bermaksud untuk sedikit menggugah daya nalar dan mensinkronisasikannya dengan kenyataan sehari-hari. Jangan bingung dahulu jika belum dibaca dari awal sampai habis. Karena ini bagian tulisan yang utuh dan tak bisa dipotong. Membacanya mesti dari awal sampai akhir maka kamu akan temukan benang hijaunya dari maksud tulisan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Baiklah, yuk kita ambil permisalan. Apa yang menjadi pembicaraan orang tua kita soal menyikapi masa sekarang, pastilah akan terdengar dari lisan mereka, <em>“mendingan jaman pemerintahan dahulu, apa-apa serba murah, rakyat gak susah buat makan, buat sekolah muda, terus kemana-mana aman. Gak kayak sekarang, apa-apa mahal dan mau cari aman malah kena penipuan..”. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Atau pernah juga dalam pembicaraan, <em>“Dih dahulu mah mo masuk ke kampus itu gampang bener asal lulus tes. Anak petani bisa jadi arsitek dengan biaya terjangkau, sekarang mah mo masuk ke kampus itu sebentar-sebentar uang sumbangan yang ditanya sanggupnya berapa! Gila aja, mo belajar aja perlu diperas tenaga dan biaya. Yang kaya makin kaya, yang miskin pada mati!”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Sadar atau tidak sadar jika kamu berjalan ke dalam hal ibadah kepada Allah melalui konteks shalat berjamaah misalnya. Mungkin ketika kita kecil dahulu betapa antusiasnya untuk bersegera mendahulukan panggilan Allah, namun semakin kesini justru seseorang semakin dewasa, ketika adzan tiba justru malah bersegera masuk kamar mandi atau ke warung kecil guna membersihkan diri atau beristirahat setelah lelah bermain sepak bola sejak ashar hingga isya menjelang. Jika demikian, lebih baik dahulu atau sekarang?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Ambil contoh lagi, seorang yang diberikan amanah untuk menjadi wakil rakyat di gedung besar hasil uang rakyat, ketika dahulu ia adalah seorang yang sangat gigih berjuang menyuarakan aspirasi rakyat dan menjadikan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama. Namun ketika ia ditunaikan harapannya masuk ke dewan rakyat justru menjadi menyuarakan aspirasi istri serta menjadikan kepentingan pribadi diatas segalanya. Jika demikian lebih baik dahulu ataukah sekarang?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Sebagian orang memasukkan perkataan hari ini lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik dari sekarang sebagai bentuk motivasi yang penuh tafsiran. Bisa dibawa menjadi salah arti bisa juga menjadi tepat guna. Namun kebanyakan orang menjadikan lebih banyak salah arti dalam beberapa posisi. Hari ini harus lebih banyak korupsinya dibandingkan kemarin dan esok harus lebih banyak lagi korupsinya dibanding sekarang. Hari ini baru bisa mencuri sepeda motor esok hari mesti lebih baik lagi yaitu mobil. Hari ini hanya sekedar dzikir berjamaah dan esok mesti ditambah lagi dengan nasyid penyentuh qalbu dalam acara tabligh akbar tersebut. Dan silahkan tambahkan contoh yang lain dalam hidup sehari-hari kamu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IN">Yang Lalu, Dahulu dan Kini</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Namun dalam Islam, membaca sejarah yang pernah berlalu, meretas kembali butiran kisah penggugah jiwa. Akan banyak ditemukan realita betapa hari ini lebih buruk dari kemarin dan esok lebih buruk lagi dari yang akan datang ataupun hari ini. Hingga akhirnya Islam tersisa hanya tinggal shalat wajib saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Betapa banyak Rasululah shalallahu ‘alayhi wa sallam berpesan akan semakin buruknya jaman yang akan tiba dan silih berganti manusia dilanda dengan harapan dihadapi mengikuti sesuatu yang disyariatkan. Sebagaimana Rasulullah pernah memesankan bahwasanya hari-hari ini dimasa sepeninggal beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam kita temukan hari yang penuh atasnya dengan kesabaran. Dari Utbah bin Ghazwan, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:”Sesungguhnya dibelakang kamu ada hari-hari penuh kesabaran. Pada saat itu orang yang berpegang dengan apa yang kalian pegangi akan mendapatkan ganjaran pahala sebanyak lima puluh orang dari kalian.” Mereka (para shahabat) bertanya: <em>“Wahai Nabiyulloh, ataukah mendapt pahala sebanyak lima puluh orang dari mereka?” </em>Beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam menjawab<em>:”Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian”</em>(Hadits ini disebutkan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Nashiruddin Al Albani dalam Silsilah Ahadits Ash Shahihah 1/892 no 494).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Islam yang dipahami oleh generasi terdahulu tentunya lebih baik dibandingkan dengan apa-apa yang ada di masa sekarang. Namun Rasulullah ternyata memberikan <em>reward </em>terbaik bila dimasa sekarang ada diantara kita yang mampu menunaikan pemahaman dalam ber-Islam sebagaimana dipahami oleh generasi awal dahulu yang setara dengan 1:50, <em>subhanallah..</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IN">Kenapa Harus Generasi Dahulu?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Lantas mengapa harus generasi dahulu bukan generasi sekarang? Bukankah apa-apa yang tidak ada di jaman sekarang tidak bisa terjawab dengan apa-apa yang dialami oleh mereka para generasi terdahulu, dari <span style="text-decoration:underline;">sisi akal</span> perkataan itu terlintas <span style="text-decoration:underline;">benar</span> dan bisa menjadi sebuah <span style="text-decoration:underline;">angin segar</span>. <span style="text-decoration:underline;">Sisi akal</span> bagi mereka yang mau kebebasan dalam Islam, <span style="text-decoration:underline;">benar</span> bagi mereka yang jenuh dengan beban syariat dan kewajiban juga hak Islam atas dirinya, dan sebuah <span style="text-decoration:underline;">angin segar</span> bagi para musuh Islam yang mendapat pintu udara untuk menghancurkan generasi akhir Islam ini. Mengapa harus dikatakan generasi dahulu lebih baik dari generasi sekarang kawan? Sebab Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam sendiri telah menjawabnya melalui sabdanya:”<em> “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, dan kemudian orang-orang setelah mereka.”</em> <span>(Shahih, HR. Bukhari dan Muslim dari shahabat Imran bin Husein dan Abdullah bin Mas’ud). Dalam penjelasan lainnya, Rasulullah menerangkan ketika ditanya, <em>“Yaa Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?”,</em> Maka Rasulullah menjawab, <em>“Aku dan orang-orang yang bersamaku </em>(yakni para shahabat beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam)<em>, kemudian orang-orang yang mengikuti jejakku dan sahabatku.”</em> (HR.Ahmad, dihasankan oleh Albani dalam Ash Shahihah). Tuntas sudah mengapa kita harus mengatakan yang dahulu lebih baik dari sekarang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Dan kamu perlu tahu <em>sob</em>, kenapa juga <em>sih</em> harus mengikuti mereka yang dahulu, apakah karena mereka hanya punya kebaikan-kebaikan aja? Soal kebaikan <em>khan </em>jaman sekarang juga ada, betul <em>gak</em>? Bahkan pintu kebaikan lebih banyak dimasa sekarang dibandingkan kemarin atau sebelumnya, sekarang jaman serba susah dan banyak orang susah. Jikalau hanya kebaikan jaman sekarang kita-kita yang hidup kini pun bisa kok lebih baik dari generasi terdahulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Lagi-lagi mengapa harus dahulu <em>sih</em> dan mengikuti mereka yang terdahulu? Jawaban ini pun tercatat dalam Kitabullah yang masyhur kita akrabi dengan nama Al Qur’an. Disana Allah Ta’ala telah menegaskan mengapa mereka-mereka yang terdahulu punya utama dibandingkan kita sekarang. Firman Allah, </span><span class="fnu"><em><span lang="IN">“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.”</span></em></span><span class="fnu"><span lang="IN"> (At-Taubah: 100). Kita bawa lagi ayat ini dengan penjelasan tafsirnya. Nah Al Imam Ibnu Katsir menjelaskan –yang lagi-lagi orang dahulu—dengan perkataan, Al Hafidh Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkhabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan ia juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/367).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="fnu"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="fnu"><span lang="IN">Gimana? Masih mau menjawab bahwasanya dahulu Cuma begitu-begitu <em>aja</em>? Ternyata tidak kawan, nyatanya ialah kita yang tidak pernah membuka mata untuk mengikuti generasi sebelumnya. Dan bisa jadi ketidaktahuan kita itulah yang justru membawa kepada sesuatu yang menjadikan bosan dalam beragama. Agama bisa jadi hanya kita pahami sebatas pada ibadah wajib saja atau bahkan hanya sebatas KTP saya <em>yaa</em> Islam dan semua orang mengakui saya Islam, selesai <em>deh</em> urusan, <em>gitu</em>?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="fnu"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="fnu"><strong><span lang="IN">Apa Hubungannya?</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="fnu"><span lang="IN">Lalu kalau sudah paham dengan keutamaan dan mengerti bahwa yang dahulu lebih baik dari sekarang. Lantas apa yang harus dilakukan? Apakah hanya sekedar paham sambil menganggukkan kelapa <em>eh</em> kepala lantas esok hari lupa dan berlalu begitu saja? Ataukah apa yang harus dilakukan jika tahu yang dahulu <em>yaa</em> biarlah menjadi dahulu bagian sejarah indah yang sekarang susah buat dilaksanakan?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="fnu"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="fnu"><span lang="IN">Nah untuk menjawabnya, ada baiknya jika kita kembalikan pada poin-poin yang bisa kamu cicil mungkin dalam berupaya menapaki menjadi orang yang mendapatkan <em>reward</em> dalam hadits sebelumnya. Ada beberapa hal sebenarnya ketika kini telah menyadari betapa pentingnya apa yang generasi terdahulu dapatkan dan betapa baiknya bila kita ingin menjadi bagian dari mereka dimasa sekarang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="fnu"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span class="fnu"><span lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="fnu"><span lang="IN">Ikutilah jalan mereka, karena jalan mereka adalah jalan yang diridhai oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana dalam banyak dalil diantaranya:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="IN">“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda: ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syaitan yang menyeru kepadanya.’ Selanjutnya beliau membaca firman Allah Jalla wa ’Ala: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.’” [Al-An’aam: 153].”</span></em><span lang="IN"> (Hadits shahih riwayat Ahmad (I/435, 465), ad-Darimy (I/67-68), al-Hakim (II/318))</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="fnu"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span class="fnu"><span lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="fnu"><span lang="IN">Ikhlas tanpa mengharapkan apapun selain ridha dari Allah Ta’ala, sebagaimana dalam hadits qudsi :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="IN">&#8220;Allah berfirman. &#8216;Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan dari sekutu-sekutu yang ada. Barangsiapa mengerjakan suatu amal, yang di dalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka dia menjadi milik yang dia sekutukan, dan Aku terbebas darinya&#8217;.&#8221; </span></em><span lang="IN">[Hadits Riwayat Muslim].</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><span lang="IN">3.<span> </span></span><span class="fnu">Mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Firman Allah: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span class="fnu"><em>“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul ) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”</em> (QS. Al Hujurat: 1)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span lang="IN"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="IN">Menyelaraskan antara ilmu yang didapat dengan amal yang dilakukan, agar kelak dapat menjadikan hasil dari apa yang ditanam. Sebagaimana generasi terdahulu pun melakukan hal demikian. Sebab tidaklah ada bagian dari Islam melainkan hal demikian adalah mudah bila dikerjakan dengan kesungguhan, sebagaimana dalam sebuah hadits:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="IN">“Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan, dan (dalam beramal) hendaklah pertengahan (yaitu tidak melebihi dan tidak mengurangi), bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan (didalam ketaatan kepada Allah) dengan amal-amal kalian pada waktu kalian bersemangat dan giat&#8221;.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menerangkan ungkapan &#8220;Sesungguhnya agama itu mudah” dalam kitabnya yang tiada banding : Fathul Baariy Syarh Shahih Al-Bukhari 1/116. Beliau berkata : &#8220;Islam itu adalah agama yang mudah, atau dinamakan agama itu mudah sebagai ungkapan lebih (mudah) dibanding dengan agama-agama sebelumnya. Karena Allah Jalla Jalaluhu mengangkat dari umat ini beban (syariat) yang dipikulkan kepada umat-umat sebelumnya. Contoh yang paling jelas tentang hal ini adalah (dalam masalah taubat), taubatnya umat terdahulu adalah dengan membunuh diri mereka sendiri. Sedangkan taubatnya umat ini adalah dengan meninggalkan (perbuatan dosa) dan berazam (berkemauan kuat) untuk tidak mengulangi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="fnu"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="fnu"><span lang="IN">Demikianlah pembahasan kali ini, semoga kamu dapat menemukan benang hijau mengapa terkadang apa-apa yang ada atau terjadi ketika dahulu lebih baik dari apa yang kita dapatkan, rasakan, atau lakukan sekarang. Dan hingga akhirnya bertemulah pada satu titik bahwasanya dalam Islam keutamaan mereka-mereka yang terdahulu ialah lebih baik dengan kita-kita yang hidup pada masa sekarang. Maka tetaplah hidup pada masa sekarang dengan melakukan amalan ketaatan-ketaatan sebagaimana apa yang dilakukan oleh generasi terdahulu dimasa Islam. Sejatinya yang demikian itulah yang disebut asing atau populernya kini ialah <em>Al Ghuroba’</em>. Sebagaimana ucapan Ibnu Qayyim Al Jauziyah, </span>dalam kitabnya Madarijus Salikin 3/199-200, berkata: “Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka, asing pada berpegangnya dia terhadap sunnah dikarenakan berpegangnya manusia terhadap bid’ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan mereka, asing pada shalatnya dikarenakan jelek shalat mereka, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="fnu"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span class="fnu"><em>“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.”</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span class="fnu">(HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span class="fnu"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span class="fnu"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adjhee.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adjhee.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adjhee.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adjhee.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adjhee.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adjhee.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adjhee.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adjhee.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adjhee.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adjhee.wordpress.com/103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=103&subd=adjhee&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adjhee.wordpress.com/2009/03/01/lebih-baik-dahulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/583fa9f0cc91318fa26fdba6032598e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizkiaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.brettdaniel.com/pictures/oldweblog/chair/afterbefore.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Harusnya Ada Malu Dalam Dirimu</title>
		<link>http://adjhee.wordpress.com/2009/03/01/harusnya-ada-malu-dalam-dirimu/</link>
		<comments>http://adjhee.wordpress.com/2009/03/01/harusnya-ada-malu-dalam-dirimu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 05:05:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adjhee</dc:creator>
				<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adjhee.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[   
Ada sebuah batu yang hilang dari tingginya nilai kemuliaan seorang muslim kini, disaat setiap orang berpadu-padan menyesuaikan keinginannya sesuai dengan ambisinya, disaat manusia kini lebih suka menanti apa-apa yang dapat membuatnya menjadi lebih baik lagi dalam setiap jengkal hidupnya akan tetapi kebaikannya itu hanya sebatas untuk dirinya bukan untuk yang lain. Semua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=101&subd=adjhee&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--> <!--[if gte mso 10]&gt;-->  <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><img class="alignright" src="http://jepretanhape.files.wordpress.com/2009/01/kembang-putri-malu-1066.jpg?w=216&#038;h=161" alt="" width="216" height="161" />Ada sebuah batu yang hilang dari tingginya nilai kemuliaan seorang muslim kini, disaat setiap orang berpadu-padan menyesuaikan keinginannya sesuai dengan ambisinya, disaat manusia kini lebih suka menanti apa-apa yang dapat membuatnya menjadi lebih baik lagi dalam setiap jengkal hidupnya akan tetapi kebaikannya itu hanya sebatas untuk dirinya bukan untuk yang lain. Semua pun tercurah dari sisi usaha, harta pun tertumpah dari sisi materinya, serta mulut pun penuh sumpah serapah bagi kehausan ego pribadi miliknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span id="more-101"></span><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Ya, kehidupan akan selalu berputar dari atas ke bawah selayaknya roda para pedagang mi ayam di pinggir jalan. Berputarnya kehidupan terkadang tidak selalu menjadikan yang kaya akan menjadi miskin, dan yang miskin pun bisa menjadi kaya. Tidak disana nilai yang terlalu luas itu tersematkan. Berputar sendiri bisa jadi yang saat ini anak maka kelak ia akan memiliki anak, yang saat ini hidup kelak ia akan wafat, hidup lagi dan mempertangung jawabkan kehidupan sebelum wafatnya karena memang kehidupan bukan hanya milik dunia saja. Sebelum alam dunia pun Allah telah menghidupkan makhluk penuh salah dan dosa ini terlebih dahulu, sebagaimana Allah pun pernah bertanya saat seseorang hidup sebelum di dunia ini, <em>“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): &#8220;Bukankah Aku Ini Tuhanmu?&#8221; mereka menjawab: &#8220;Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi&#8221;. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)&#8221;, </em>(QS. Al A’raaf : 172).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Batu kemuliaan yang kini hilang ia adalah sebuah batu besar yang keberadaannya sangat menentukan sejauhmana pola hidupnya, bagaimana aktivitasnya terlaksana. Nah, batu tadilah sebuah cerminan tinggi dari nilai yang luhur sebagai bagian dari warisan mereka-mereka para Nabi terdahulu dan juga generasi pewaris Nabi yang shalih saat hidupnya maupun saat wafatnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN">Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : <em>“Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah :  Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka.”</em> (HR. Bukhari </span><span lang="IN">no. 6120<span style="color:black;">)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN">Batu itu bernama malu, cita rasa warisan para Nabi terdahulu yang kini setelah jauh ditinggal Nabi-nya, justru pudarlah semakin lama batu besar yang sekarang sedikit demi sedikit keropos sebab hilang pula hakikat ketahuan menjadi ketidaktahuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN">Dimasa sekarang, masa penuh dengan sana-sini bernilai pameran yang masa lalu tidak terbayangkan terjadi, hilangnya malu telah menjadi sebuah budaya, adat, serta kebiasaan. Norma kesusilaan dan etika sejatinya pernah mengajarkan soal malu, akan tetapi semua menjadi layu lantas tersapu. Semua ingin menjadi apa yang diinginkannya sekalipun harus mengorbankan kehormatannya. Semua disingkap dari tabir hanya sebuah ambisi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN">Bahkan terlebih saat ini kala semua mata tertuju pada satu titik untuk menjadi penguasa dan berkuasa, sekalipun ia sendiri tidak dapat menguasai dirinya apatah lagi keluarganya. Padahal setiap orang memiliki alat kemaluan, maka yang tidak malu ialah mereka-mereka yang ragu akan alat kemaluannya. Alatnya ialah pria tetapi bergaya wanita dan menyukai pria, ada pula alatnya wanita namun berlagak bak pria yang juga menyukai wanita padahal ia bukan pria. Mereka-mereka itulah yang ragu dengan alat kemaluan pemberian dari Rabb-nya, dan melampaui batas dari apa-apa yang telah menjadi ketetapan Rabb-nya. Malu telah hilang, dan batu itu pun kini bukan lagi sebuah bongkahan besar yang dapat menahan angin kencang kala terpaan melanda. Batu tersebut kini telah menjadi serpihan keropos nan tak kokoh pula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN">Padahal Malu adalah bagian dari agama sebagaimana perkataan Rasul mulia shalallahu ‘alayhi wa sallam, </span><em><span lang="IN">“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah malu.” </span></em><span lang="IN"><span> </span>(HR. Ibnu Majah (no. 4181), Shahiih Ibni Majah (II/406 no. 3370). Dan lebih rinci lagi yakni malu merupakan kebersamaan dari sebuah keimanan<em>, “Malu</em></span><em> dan iman itu senantiasa ada bersama-sama. Bila hilang salah satu dari keduanya, hilang pula yang lainnya.”</em> (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 1313). Atau dalam sabda Rasulullah sebagaimana yang diriwayatkan dari jalan Abu Hurairah: <em>“Iman itu ada tujuh puluh sekian1 cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan ‘tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah’, yang paling rendah menghilangkan gangguan dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 48 dan Muslim no. 35)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="color:black;" lang="IN">Menuai Hikmah Dengan Kisah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN">Ummul Mukminin Aisyah radhiyallohu anhumma, <em>ash shidiqqah bintu ash shiddiq</em>, sosok yang dicintai Rasulullah dari kalangan wanita setelah baoaknya menjadi sosok yang dicintai Rasulullah dari kalangan pria, mengisahkan: “Suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam berbaring dirumahku dengan menyingkap paha atau betis beliau. Lalu Abu Bakar datang meminta izin untuk menemui beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam. Lantas beliau (Rasulullah) lantas mengizinkannya sedang ia dalam keadaan demikian (tersingkap paha atau betisnya) lalu ia berbincang-bincang dengannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN">Lalu Umar ibn Al Khattab datang dan meminta izin untuk bertemu dengan beliau, lantas Rasulullah pun mengizinkan dalam keadaan yang sama sebagaimana sebelumnya menerima Abu Bakar tadi, dan berbincang-bincang pula diantara mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN">Datanglah Utsman bin Affan meminta izin untuk menemui beliau. Maka Rasulullah pun lantas duduk dan membetulkan pakaiannya tadi. Dan Utsman pun masuk serta terjadilah bincang-bincang diantara mereka.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN">Hal inilah yang mendorong Aku (Aisyah) untuk bertanya setelah Utsman keluar, “Tadi Abu Bakar masuk engkau kelihatannya tidak mempersiapkan untuknya dan tidak begitu memperhatikannya, lalu masuk Umar dan engkau juga tidak mempersiapkan untuknya dan tidak begitu memperhatikannya. Kemudian ketika Utsman masuk engkau merapikan pakaianmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN">Lalu Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam pun menjawabnya, <em>“Tidakkah aku malu terhadap lelaki yang malaikat malu atasnya”</em> (HR.Muslim no 2401) atau dalam riwayat lainnya dikatakan: “</span><em><span lang="IN">Sesungguhnya ‘Utsman itu orang yang pemalu. Aku khawatir, jika aku mengizinkan dia masuk dalam keadaan seperti tadi, dia tidak akan bisa menyampaikan keperluannya kepadaku.”</span></em><span lang="IN"> (HR. Muslim no. 2402).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Bahkan Rasulullah pun disebutkan dalam sebuah hadits sebagaimana dituturkan oleh Abu Said Al Khudri bahwasanya <em>“beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam </em></span><em>lebih pemalu daripada seorang gadis dalam pingitannya. Bila beliau tidak menyukai sesuatu, kami bisa mengetahuinya pada wajah beliau.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 6119 dan Muslim no. 2320)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="color:black;" lang="IN">Mendudukkan Nilai Malu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="IN">Sahabat, nilai malu sangat memiliki arti nan mulia, didalamnya berisi kebaikan yang sangat banyak nilainya. Tidaklah seseorang yang malu memiliki kerugian selain malu untuk menyampaikan kebenaran atau bertanya soal hal yang dapat mendatangkan kebenaran. Malu ialah kebaikan, sebagaimana Rasulullah pun bersabda: <em>“ Malu </em></span><em><span lang="IN">itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata.”</span></em><span lang="IN"> (HR. Al-Bukhari (no. 6117) dan Muslim (no. 37 (60)), dari Sahabat ‘Imran bin Husain Radhiyallahu &#8216;anhu).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Malu pun memiliki arti ialah akhlak yang dapat membawa seseorang untuk meninggalkan perbuatan tercela dan mencegahnya dari mengurangi hak yang lainnya. (Al-Imam An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin, Kitabul Adab Bab Al-Haya` wa Fadhluhu wal Hatstsu ‘alat Takhalluqi bihi.). Atau malu juga dimaknakan dengan kekhususan yang dimiliki manusia agar dia dapat berhenti dari berbuat apa saja yang dia inginkan, sehingga dia tidak akan seperti hewan. (Fathul Bari, 1/102)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Malu pun asalnya terbagi menjadi dua bagian. Pertama, malu yang berasal dari tabiat dasar seseorang <em>(self character).</em> Ada sebagian orang yang Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala anugerahi sifat malu, sehingga kita dapati orang itu pemalu sejak kecil. Tidak berbicara kecuali pada sesuatu yang penting, dan tidak melakukan suatu perbuatan kecuali ketika ada kepentingan, demikian itu terjadi karena dia pemalu. Kedua, malu yang diupayakan dari latihan, bukan pembawaan <em>(character building).</em> Artinya, seseorang tadinya bukan pemalu. Dia fasih dalam berbicara dan tangkas melakukan apa pun. Lalu dia bergaul dengan orang-orang yang memiliki sifat malu dan baik sehingga dia memperoleh sifat itu dari mereka. Malu yang bersifat pembawaan itu lebih utama daripada yang kedua ini. (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, Ibnu ‘Utsaimin, hal. 234), sehingga pemaparan Asy Syaikh Utsaimin tadi bermakna bahwasanya ada malu karena faktor internal yaitu pembawaan dirinya, dan ada juga malu berasal dari faktor eksternal yakni lingkungan temat ia berada yang tersesuaikan dengan situasi juga kondisinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IN">Malu, Kini&#8230;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Malu saat ini sebagaimana pemaparan sebelumya tadi. Telah hilang terhempas dari sebuah asas kehidupan seorang muslim. Baginya sebutan <em>“yang penting tampil”</em> sekalipun dengan cara tabrak lari alias sana-sini yang penting aksi, menjadi sebuah hal yang sangat biasa. Tidaklah masa kini ditemukan dengan banyaknya sebagaimana masa-masa terdahulu. Disaat pria menggunakan pakaian wanita ada sanksi sosial yang kelak akan diterimanya seperti pengkucilan dan cemoohan. Sehingga penggunanya jera. Akan tetapi kini seorang pria berpakaian wanita atau sebaliknya dikatakan trendi dan nyata punya gaya. Tidaklah dahulu, segala sesuatu dijaga sekuat tenaga bahwa hal tersebut tak sesuai dengan budaya melainkan saat ini segala sesuatu diumbar tanpa harga dengan jargon estetika sekalipun menyampingkan etika yang tak lama lagi akan dikatakan sebagai sesuatu hal biasa dan membudaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Dan tidaklah dahulu setiap orang yang ingin berbicara senantiasa diukur dari kapasitas dirinya jikalau kelak salah-salah ucap tidak mengundang malu atasnya, melainkan kini semua orang berbicara lepas tanpa pernah mengenal malu yang menjadi karibnya saat sekolah dahulu. Dimanapun kini berada, suguhan yang sebelumnya hal memalukan menjadi sebuah pembiasaan. Hal yang dahulu ditabukan kini menjadi sebuah kewajaran. Begitu cepatnya roda mi ayam itu berputarkah? Sehingga untuk melariskan dagangan, kualitasnya baik rasa dan pelayanan tidak lagi dijaga dengan berganti hanya menjadi sajian pelepas saat lapar melanda, hambar tanpa rasa dan gurih penuh paksa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Malu, ialah sebuah batu dan hilangnya rasa malu berarti juga hilangnya sebagian dari keimanan. Sebab malu sebagaimana kata Rasulullah shalallhu ‘alayhi wasallam, <em>“&#8230;Malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> </span>(HR. Al-Bukhari no. 48 dan Muslim no. 35) telah lenyap tanpa bekas dari kehidupan masyarakat millennium ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><em>“Malu itu termasuk keimanan, dan keimanan itu tempatnya di surga….”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center">(HR. At-Tirmidzi no. 2009, dishahihkan Syaikh Al-Albani)</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em>Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab</em><em></em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adjhee.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adjhee.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adjhee.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adjhee.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adjhee.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adjhee.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adjhee.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adjhee.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adjhee.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adjhee.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=101&subd=adjhee&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adjhee.wordpress.com/2009/03/01/harusnya-ada-malu-dalam-dirimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/583fa9f0cc91318fa26fdba6032598e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizkiaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jepretanhape.files.wordpress.com/2009/01/kembang-putri-malu-1066.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Demam Berjaring-jaringan</title>
		<link>http://adjhee.wordpress.com/2009/02/12/demam-berjaring-jaringan/</link>
		<comments>http://adjhee.wordpress.com/2009/02/12/demam-berjaring-jaringan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 08:01:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adjhee</dc:creator>
				<category><![CDATA[wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adjhee.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[   
Ada yang lebih hebat dikala tekhnologi telah menembus batas tanpa kenal lelah, ada banyak sajian dikala seseorang yang tadinya buta dapat melihat cahaya terang hingga menggandrunginya. Ya! Arus budaya sudah tidak lagi membuka sekat antara tetangga di samping rumah, bahkan arus budaya telah menjadi sebuah kamus trend tersendiri dan menjelma menjadi trend [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=97&subd=adjhee&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><img class="aligncenter" src="http://www.phatwafactory.com/fasadbook1.png" alt="" width="324" height="108" /> <!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]&gt;--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ada yang lebih hebat dikala tekhnologi telah menembus batas tanpa kenal lelah, ada banyak sajian dikala seseorang yang tadinya buta dapat melihat cahaya terang hingga menggandrunginya. Ya! Arus budaya sudah tidak lagi membuka sekat antara tetangga di samping rumah, bahkan arus budaya telah menjadi sebuah kamus trend tersendiri dan menjelma menjadi <em>trend centre</em>. Kala sebuah kebiasaan menjadi sebuah kebutuhan, berawal dari keinginan dan diteruskan oleh kesenangan. Jejaring sosial pun sudah bukan lagi hubungan antara satu teman di sekolah, rekan bekerja, rekan satu kampus, dan kini jejaring telah membelenggu hingga dunia cakrawala tanpa batas bernama internetan ria.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-97"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Demam mengekor, itulah yang kini menjangkiti sebagian banyak kaum muda di Indonesia. Kala internet hanya sebagai sarana apresiasi yang punya landasan awal mencari makna, hingga berujung mencari cinta. Sangat mudah dalam menggunakannya, itulah asas yang dihembuskan jargon sosial para situs jejaring sosial. Disana setiap orang bebas mengapresiasikan makna hidupnya lebih dalam, memberikan catatan atas seseorang, dan menambahkan haluan untuk memperpanjang relasi serta pertemanan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Lagi-lagi, tidak ada yang salah dalam pengadaannya, yang menjadi pangkal salah ialah biasanya pada penggunaannya. Maka hendaklah bagi mereka atau siapapun yang terjun menjadi relawan jejaring sosial di internet, menjadi bulan-bulanan hingga lupa makan, lupa daratan, serta lupa keadaan. Justru kehadirannya malah menjadi sebuah kedzhaliman atas dirinya. Para pengguna dan pecandu internet terkadang melupakan hak-hak tubuhnya, padahal Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam menegaskan ada hak di dalam diri tiap orang. Entah itu hak atas dirinya, hak atas tamunya, bahkan jika telah beristri pun ada hak atas dirinya. Sebuah hadits yang indah bila kita mau mengambil faidah atasnya sebagaimana sabda Rasulullah berikut ini:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dari Abdullah Ibnu Amru Ibn Al-Ash radhiyallohu ‘anhu., “Aku berpuasa setiap hari dan membaca Al-Quran setiap malam. Berita apa yang aku lakukan itu sampai kepada Rasulullah. Beliau berkata kepadaku, ‘Aku mendengar bahwa engkau puasa setiap hari dan membaca Al-Qur’an setiap malam?’ Aku menjawab, ‘Benar, wahai Nabi Allah. Dan aku, dengan melakukan itu semua hanya mengharapkan kebaikan.’ Beliau berkata, ‘Sebenarrnya cukup bagi kalian puasa tiga hari dalam setiap bulan.’ Aku berkata, Wahai Nabi Allah, Aku mampu melakukan yang lebih baik dari itu.’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya istrimu punya hak, tamu-tamumu punya hak dan tubuhmu punya hak. Puasalah seperti puasanya Nabi Daud. Dia adalah hamba yang sangat rajin beribadah.’ Aku bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, ‘Bagaimana puasanya Daud itu?’ Beliau menjawab, ‘Daud berpuasa satu hari dan tidak berpuasa satu hari. Bacalah dengan mengkhatamkan Al-Qur’an dengan satu bulan satu kali.’ Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah, ‘Aku mampu melakukan lebih dari itu.’ Beliau berkata, ‘Bacalah dua puluh hari sekali.’ Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah, aku mampu melakukan yang lebih baik dari itu.’ Beliau berkata, ‘Bacalah setiap tujuh hari sekali saja dan jangan tambah lagi. sesungguhnya istrimu punya hak atas engkau dan tubuhmu punya hak atas engkau.’ Aku tetap mendesak untuk berbuat lebih, namun aku ditekan. Beliau berkata kepadaku, ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu, bisa jadi umurmu akan panjang (dan engkau menjadi tua).’ Kemudian aku melaksanakan petunjuk Nabi kepadaku. Ketika aku sudah tua dan lemah, aku merasa beruntung menerima kemurahan (rukhsah) Nabi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Jika dalam sesuatu hal saja, seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dicegah untuk tidak melampaui batas, hatta dalam hal yang ibadah sunnah untuk dirinya diberikan batasan agar tak melanggar hak seorang dengan lingkungannya. Namun diakhirnya sebuah hikmah pun dikatakan oleh sahabat itu sendiri, senyatanya cegahan dari sang Nabi membawanya menikmati hari tua dengan penuh keberuntungan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sungguh arus yang memang tak lagi dapat dibendung disaat seseorang sudah gandrung, hanya kebiasaan yang lebih baik serta menyenangkanlah yang bisa mengalihkan perhatian seseorang atas kebiasaan yang dijalaninya berjejring sosial tanpa batas. Ya jaring sosial tanpa batas itulah yang telah memupus semua hak-hak kehidupan orang-orang disekitarnya. Bayangkan, ia lebih senang untuk berdiam diri seharian didepan layar monitornya, mencari relasi yang punya kegemaran serupa atas dirinya. Tak ayal adakalanya merambah menuju hal-hal yang membuat ia semakin penasaran atasnya. Dan tanpa terasa, shalat pun telah rela ditangalkan. Ini nyata dan ini fakta adanya, realita jejaring sosial kini telah membuat pemuda bangsa menjadi terlena. Ia rela membeli paket panjang di tiap warnet tengah kota dari tengah hari hingga pagi buta. Ia sudi mencari teman baru, melakukan interaksi komunikiasi, dan lupa bahwasanya kapasitas otaknya telah menuntutnya untuk beristirahat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam ranah kehidupan sosial, sejatinya tidak ada penyakit kecanduan bergaul. Namun jejaring sosial telah menghebatkan dirinya menjadi ide baru untuk penyakit baru yang lebih menular. Label tidak trendi jika belum punya akun di salah satu jejaring sosial menjadi momok tersendiri. Maka tak heran, seorang anak kecil berusia beranjak remaja sedang asyik mengedit halaman akun jejaring sosial tempat ia menjadi anggota didalamnya. Berlebihan dan menyebabkan kelalaian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Maka kaum muslimin pun kini sedang berada diambang kekalahan. Disaat tentara kuffar membombardir tanpa henti melalui berbagai cara dan sarana, para pemuda kaum muslimin asyik menikmati ajang saling lihat kepribadian saudaranya yang lainnya. Sungguh budaya hidup yang apatis telah menjadi kesadaran hidup tanpa kenal perasaan. Sejatinya pun jejaring sosial akan ia tinggalkan dan tak jarang darisana petaka besar kehancuran dimulai secara berdiam-diam. Tak ada yang salah dengan internet ataupun jejaring sosial memang, namun yang salah ialah praktek penggunaannya. Kala digunakannya telah salah, maka kala itu pula menuai sebuah masalah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em>Wallahu ‘alam bi shawwab</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adjhee.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adjhee.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adjhee.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adjhee.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adjhee.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adjhee.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adjhee.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adjhee.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adjhee.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adjhee.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adjhee.wordpress.com&blog=1750724&post=97&subd=adjhee&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adjhee.wordpress.com/2009/02/12/demam-berjaring-jaringan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/583fa9f0cc91318fa26fdba6032598e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizkiaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.phatwafactory.com/fasadbook1.png" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>