Cemburu adalah kata hebat yang mengetarkan jiwa, kecemburuan identik dengan kekecewaan dan berawal dari sebuah kecemasan ataukah kekhawatiran. Cemburu adalah akibat dari kedua faktor tersebut. Wajar bila setiap pecinta merasakan cemburu dengan seeorang yang dicintainya. Kecemburuan adalah benih-benih dalam cinta sejatinya, namun bila tak pandai mengelolanya, kecemburuan dapat menjadi sebuah ancaman cinta. Dalam hubungan rumah tangga, kecemburuan adalah sesuatu yang wajar dan alamiah sebagai sosok manusia. Hubungan pernikahan terkadang masih banyak dipenuhi bumbu-bumbu cemburu. Tak sedikit kecemburuan menjadi sebuah nilai yang dianjurkan terlebih bagi seorang suami, sebab apabila seorang suami tak cemburu atas istrinya terhadap hubungannya dengan orang yang berbeda jenis kelamin serta teman istri saat aktivitas entah bekerja atau menempuh pendidikan misalnya, dan suami merasa tenang-tenang saja atasnya, maka berhati-hatilah terhadap apa yang dikatakan Rasulullah shalalahu ‘alayhi wa sallam, “Tiga gologan yang tidak akan masuk syurga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan dayuts.” (HR. Nasa’i ,Hakim, Baihaqi, dan Ahmad). Dayuts ditafsirkan hadits-hadits lain, yaitu : Seorang kepala rumah tangga yang membiarkan kejelekan atau kerusakan dalam rumah tangganya. Dayuts juga ditafsirkan oleh ulama : orang yang tidak cemburu terhadap istrinya.
Gak usah ribet-ribet membicarakan perkembangan tekhnologi akhir-akhir ini, karena dengan sendirinya tanpa sebuah presentasi pun tekhnologi dapat mudah digunakan dan disalahgunakan. Itu sebuah kebenaran yang sudah dilakukan pembenaran. Sehingga siapapun vendor pemilik hak paten gadget suatu alat sangat dengan mudah memasarkan produknya didalam negeri pertiwi ini.
Handphone sebagai salah satu tekhnologi mutakhir yang senantiasa berevolusi mengikuti perkembangan kebutuhan para pemakai dan pengguna, belakangan menjadi semakin menggila. Tak pernah sebelumnya terpikirkan akan dapat melihat acara televisi dimanapun kita berada, well guys, sekarang menjadi ada. Bukan sulap bukan sihir, bukan magic dan juga musyrik. klik untuk melanjutkan
Lihatlah di kota besar ketika malam libur tiba, para pemuda-pemudi asyik mengelilingi jalan raya sembari berpeluk mesra diatas tunggangan istimewa sang pria. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa tunggangan istimewa tersebut kini mudah didapat, bayangkan hanya dengan dana Rp. 200.000 seseorang telah dapat membawa pulang motor kedalam rumahnya. klik untuk melanjutkan

Judul tersebut bukan mau menandingi sebuah novel laris manis karya sarjana Al Azhar Mesir yang fenomenal nan monumental, bukan pula mau menandingi pemerintah yang sedang gencar di mass media dalam mengkampanyekan pemberhentian sistem bahan bakar bersubsidi, bahkan bukan pula membahas tentang urusan halal ataupun haramnya pacaran (karena kami yakin, teman-teman lain penulis di situs ini telah menyiapkan soal tersebut). Tulisan ini ditujukan hanya untuk mengasah daya nalar dalam berfikir dan menyadari sebuah realita yang ada aja kok, gak lebih. klik untuk melanjutkan
Dalam salah satu kutaib kecil berjudul Tazkiyatun Nafs karya Al Ustadz Ahmad Farid hafidzhahullah, beliau menukil sebuah kisah tentang seseorang bernama Abu Hazim. Sosok yang di masanya terkenal dengan kezuhudannya. Ia pernah ditanya, “Apa saja harta milik anda?” Beliau menjawab, “Hartaku ada dua. Aku tidak pernah takut menjadi fakir selama memilikinya. Yaitu tsiqqah (yakin dan percaya) kepada Allah dan berputus asa (tidak mengharapkan) apa yang dimiliki oleh manusia.” Kali lain beliau juga pernah ditanya dengan pertanyaan hampir senada, “Apakah anda tidak takut menjadi fakir?” Beliau kembali menjawab., “Bagaimana aku takut menjadi fakir sedangkan Tuanku adalah pemilik segala yang ada di langit dan di bumi serta diantara keduanya, juga yang ada di bawah tanah?”
Sungguh kita tentunya mendapati masa ini adalah masa-masa yang tiap manusia dituntut untuk senantiasa bersabar dalam menghadapi kehidupan sehari-harinya. Seseorang terkadang berhadapan dengan sketsa guratan realita maupun tindakan nyata fenomenologi dengan bungkusan lebih dari sekedar sebungkus makan ringan di supermarket. Hilangnya nilai-nilai merasa cukup terhadap nikmat halal yang Allah berikan mendorong tiap individu berjalan tanpa rambu-rambu syariat yang hanif. klik untuk melanjutkan

Menikah adalah salah satu pilihan dan sebuah kunci sarana menuju kebahagiaan, dapat dengan mudah sebuah perubahan disaksikan didepan mata kamu pastinya perbedaan antara orang yang telah menikah dengan yang belum menikah. Dalam sebuah raut muka dan wajah penuh garis tawa lebih banyak menyemburatkan asa dibandingkan gejolak lara maupun derita. Jangankan air mukanya, seseorang yang telah menikah tentunya bisa kamu cirikan adanya perubahan fisik dalam jarak sebelum dan sesudah menikah. Orang sering bilang “susunya cocok”.
Menikah adalah sunnah para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah azza wa jalla, keseluruhan dari pembawa berita berupa kabar gembira serta pemberi peringatan itu tidaklah melajang. Bahkan diantaranya ada yang poligami atau menikah dengan banyak istri. Karena memang hukum asal nikah itu ialah poligami bukanlah monogami. Namun terkadang tuduhan tersebut pastinya bisa kita rasakan dari sorotan musuh-musuh Islam, padahal tanpa disadari raja-raja romawi, persia, dan yunani adalah pelaku pernikahan bukan tunggal. klik untuk melanjutkan
Siapapun pasti pernah merasakan sakit dalam hidupnya, jangankan yang hanya manusia biasa, seorang Nabi saja bisa merasakan sakit. Jadi musykil bila ada orang mengaku sakti tapi pernah sakit. Sebab permainan kata antara sakti dan sakit sangat erat di negeri tercinta ini.
Sakit adalah ujian dari Allah Ta’ala kepada setiap orang, tidaklah ia miskin atau kaya, pria atau wanita, muda atau tua, pegawai ataukah pengangguran, amatiran ataukah profesional, dan berbagai macam perbandingan lainnya pasti merasakan sakit. Bohong pokoknya kalo ada orang ngaku gak pernah sakit. Sakit itu terbagi sama sebagaimana sehat, ada yang disebut sakit jasmani, rohani, bahkan perpaduan diantara keduanya.
Pembahasan kita kali ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari Insya Allah, berbicara soal tipologi antropologis bangsa Indonesia oke, bicara soal sosiologi dan diferensiasi pun jadi. Semua terangkum dalam judul tulisan ini yang bernama “Sakit? Jangan Ke Poliklenik!”. klik untuk melanjutkannya</code>
Sakit bagi sebagian orang memang sesuatu yang tidak menyenangkan. Terlebih bila muncul anggapan bahwa sakitnya itu merupakan bentuk penyiksaan dengan siraman tidak adanya rasa keadilan dari sang Tuhan. Seringkali saya menemui atau masuk kedalam ruangan dengan aura yang gelap, murung, membisu, dan terdengar suara lamat-lamat televisi disertai tayangan bergonta-ganti.
Dalam setiap bimbingan, banyak para pasien justru lebih terdiam sepi, bengong, melamun, mengkhayal, berangan-angan, bahkan tak jarang mereka merasa dirundung oleh ketakutan yang membahana di dinding jiwa akan sakitnya dengan kekhawatiran akan merembet ke seluruh penjuru organ tubuh. Jika sudah demikian, tak ayal sakitnya menjadi berubah dari sekedar sakit perut bisa menjadi sakit kepala. Padahal ketakutan itu hanya nol besar belum terbukti dan tak sesuai realita melainkan sekedar katanya dan kecemasan saja.

Tentunya kamu sering deh nemuin mereka-mereka yang telah memasuki usia dewasa ataupun usia paruh baya pake celana pendek saat bepergian kemana-mana. Mereka sih bilang ngakunya Islam dan waktu sekolah pernah dapet pelajaran agama Islam. Pastinya dong di pelajaran itu ada materi pentingnya menutup aurat atau menjaga aurat. Namun faktanya berbicara, di kota besar sekelas ibukota negara yang klaimnya punya peradaban lebih maju ternyata eh ternyata malah kebalikannya lho dengan penduduk desa. Kalo di desa justru para bapak-bapak atau mereka yang menginjak usia dewasa ngerasa risih kemana-mana bepergian dengan menggunakan celana pendek seperti bendera berkabung alias setengah tiang. Bahkan hingga pergi kesawah pun kebanyakan lebih suka pake celana sebetis dibanding pake celana pendek. -klik untuk melanjutkan>
Ramadhan telah datang menghampiri kita, sudah selayaknya momentum ini disambut keharuan dan kebahagiaan juga kesungguhan. Tentunya setelah perjalanan hidup yang cukup panjang dan melelahkan selama 11 bulan. Disepanjang kehidupan itu kebisingan, kegundahan, kecemasan, kebahagiaan, dan bahkan mungkin kelalaian telah mengisi hari-hari kita.
Ramadhan merupakan sebuah bentuk pelatihan yang sangat memiliki manfaat besar bagi mereka yang berusaha mengambil manfaat darinya. Dibandingkan dengan pelatihan-pelatihan yang sebelumnya kita kenal dan kita lakukan mungkin. Seperti halnya sebuah pelatihan yang tentunya sebuah keseriusan dan penuh sesak dengan kesibukan, pun demikian halnya dengan Ramadhan semua aktifitas anak muslim dalam mengingat Allooh juga, dimana mereka pada bulan ini akan senantiasa mengibadahi Rabb yang memegang hati-hati manusia dan yang membolak-balikkannya diliputi dengan segala kerendahan hati dan harapan yang penuh dengan penggantungan asa akan diampunkan dosa dan kesalahannya maupun sebuah permintaan dan permohonan akan apa yang ia inginkan. masih sama sajakah ramadhanmu, serius?







